Sabtu, April 4, 2026
HomeBerita PropertiPilihlah Elektronik Ramah Lingkungan!

Pilihlah Elektronik Ramah Lingkungan!

LABEL RAMAH LINGKUNGAN BELUM MENJADI STANDAR WAJIB BAGI PRODUK INDUSTRI DI NEGERI INI.

elektronik-ramah-lingkungan

Produk industri seperti barang elektronik memiliki dua standar: mandatory dan voluntary. Mandatory adalah standar wajib yang harus dipenuhi produsen seperti Standar Nasional Indonesia (SNI). Biasanya menyangkut aspek safety dan economical. “Produksinya harus sudah memperhitungkan aspek keamanan dan kenyamanan pengguna. Kalau tidak, produk jadi ilegal dan tidak bisa masuk pasar,” kata Muhamad Suhud, Energy Coordinator Climate & Energy Programme WWF Indonesia.

Sedangkan voluntary dibuat masing-masing merek. Misalnya, ketika pada era 80-an isu lingkungan mulai ramai, produsen mencantumkan label ramah lingkungan (ecology friendly) pada produknya. “Jadi, masih berupa klaim sepihak bahwa produknya aman,” ujarnya. Karena klaim-klaim itu kian marak, muncul upaya dari lembaga non pemerintah merumuskan standar eco friendly tersebut. Sejak itu muncul standar yang disebut eco labeling.

Sebuah produk elektronik dinilai eco friendly bila bahan baku dan komponennya tidak mengandung bahan berbahaya seperti cadmium, mercury, lead (timbal), poly brom, PVC, dan yang sejenis itu, dan aplikasi teknologinya hemat energi, tidak mencemari udara dan merusak lapisan ozon.

Masalahnya, di sini pasar belum menuntut standar setinggi itu. Kita masih berkutat soal harga. Sebagian produsen pun masih membuat standar berbeda untuk produk yang dijual di negara maju dan negara berkembang. Bahkan, produk elektronik yang di negara maju sudah menjadi sampah diimpor ke sini sebagai secondary raw material (bahan baku bekas setengah jadi).

Sampah berbahaya itu kemudian dirakit lagi, diberi casing, dan dijual seperti produk baru dengan harga murah. Istilahnya produk rekondisi. Pasar menyerapnya dengan sukacita. Setelah menjadi sampah, hanya 20 persen bahan dan komponen produk elektronik yang bisa diolah lagi (recycle). Sisanya harus dibakar yang mencemarkan udara. Itulah yang mendorong negara maju membuangnya ke negara miskin.

Bergeser

Baru belakangan masyarakat lebih concern terhadap isu lingkungan. “Sudah ada pergeseran pemahaman. Kalau dulu yang penting nyala, sekarang sudah mengarah pada hemat energi,“ kata Engkos Koswara, Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Stasiun TV pun mulai menuju sistem digital yang lebih hemat listrik; satu kanal bisa digunakan untuk enam saluran dibanding sekarang yang masing-masing punya kanal sendiri.

elektronik-ramah-lingkungan-2

Dampaknya, produsen juga mulai care terhadap aplikasi teknologi dan pemakaian bahan baku serta komponen produknya. Bahan baku dan komponen yang dipakai tidak lagi mengandung zat berbahaya. Sementara teknologinya makin hemat energi, tidak mencemarkan udara dan merusak atmosfir. Panasonic misalnya, melansir green plan, sebuah program yang menargetkan seluruh produknya sudah ramah lingkungan pada tahun 2010.

Bahan baku dan komponennya tidak lagi mengandung bahan berbahaya. Untuk itu Panasonic mengadopsi standar Eropa mengenai penggunaan logam berat dalam produk elektronik yang disebut restricted of hazardous substances (RoHS) complain. “Produk kita baik yang impor maupun lokal, dari yang paling kecil sampai yang paling besar, sudah merujuk ke standar itu. Untuk seluruh dunia standarnya sama,” kata Susy Darmayanti, Corporate Communication PT Panasonic Gobel Indonesia.

Berupaya

Semua produk juga diupayakan hemat energi, dengan lokomotif produk AC melalui penggunaan teknologi inverter. AC menjadi lokomotif karena konsumsi listriknya paling besar. Produk tertentu seperti mesin cuci stand by-nya juga sudah dibuat nol watt, TV plasma 0,5 watt. “Sampai tahun 2009 semua produk yang efisiensi energinya rendah kita eliminasi,” ujarnya.

Memang, dampaknya harga produk menjadi sedikit lebih mahal. Tapi, itulah harga yang harus kita bayar untuk menjaga lingkungan hidup. “Untuk apa harga murah, kalau mengganggu kesehatan dan mencemari lingkungan, dan listriknya boros,” kata Susy. Hanya, semua itu masih bersifat voluntary. SNI sendiri belum mengadopsi standar eco labeling.

Karena itu kita tidak tahu mana produk yang sudah eco friendly dan mana yang belum. Yang bisa dilakukan hanya berupaya membeli produk ramah lingkungan. Yaitu, yang bahan bakunya tidak mengandung zat berbahaya (lihat tabel), hemat listrik, masa pakai panjang, mudah dirawat, dan sudah menggunakan freon/refrigeran R410A yang tidak merusak lapisan ozon (non CFC) khusus untuk AC dan kulkas.

Konsumsi listrik bisa dilihat pada name plat yang ditempelkan pada produk. Di situ tercantum input atau daya (watt), tegangan (voltase), dan lain-lain. Sedangkan keterangan mengenai bahan baku, komponen, dan refrigerannya bisa diperoleh dari brosur dan leaflet dalam kemasan produk, ditambah informasi dari media massa.  Yudiasis Iskandar

 

Konsumsi Listrik

Supaya hemat listrik dan mengurangi emisi gas buang, kita dianjurkan memilih produk elektronik dengan daya minimal, dan tegangan yang selaras dengan voltase di rumah. Kalau voltase di rumah 220, arus daya produk elektronik juga harus sebesar itu. Hanya, memang kita sukar memastikan daya riil sebuah produk elektronik sama dengan yang tercantum di name plat.

Pasalnya, voltase listrik di negara ini masih fluktuatif. Akibatnya sebagian daya menguap (daya semu) namun tetap harus kita tanggung bebannya. Misalnya, lampu 40 watt akan menyala 40 watt bila tegangan stabil 220 volt. Tapi, tegangan riil naik turun, bisa 215 atau 230 volt, sehingga daya lampu itu tidak sepenuhnya 40 watt.

“Mungkin nyalanya cuma 35 watt, yang berarti power factor-nya hanya 0,8 (35 dibagi 40, Red),” kata Azwar Lubis, DM Komunikasi & Bina Lingkungan PT PLN. Artinya, tidak mencapai angka ideal sehingga produk tidak benar-benar hemat energi. Masa pakainya pun bisa lebih pendek. Power factor ideal = 1 (konsumsi listrik riil produk sama dengan daya semu yang tercantum di name plat).

“Standarnya 0,9. Ini masih bagus. Kalau lebih kecil berarti power factor-nya jelek,“ ujarnya. Dengan alat seperti voltase meter atau multi tester kita bisa mengukur tegangan dan daya riil sebuah produk elektronik. Tapi, jelas cara itu tidak praktis.

Penyebab lain, kebanyakan barang elektronik seperti pompa air, kipas angin, TV, dan kulkas menggunakan kumparan. Teknologi ini menguapkan sebagian energi yang dipakai. Makin tua kumparannya kian boros konsumsi listriknya. “Yang tidak pakai kumparan hanya lampu pijar. Makanya nyala lampu pijar bisa pas. Daya atau watt-nya sama dengan VA-nya,” katanya.

Karena itu untuk mengurangi fluktuasi tegangan, disarankan menggunakan kapasitor atau stabilizer. Terlebih pada rumah-rumah besar dengan banyak peralatan elektronik. “Kapasitor akan menyerap daya yang menguap itu sehingga bisa digunakan lagi menjadi energi,“ jelas Azwar.

Efek Zat Kimia Berbahaya

Zat Berbahaya Terdapat pada Efek yang ditimbulkan
Cadmium (CD) Resin, bahan kemasan, bahan pelapis (coating), pewarna, cat, tinta, plating (pelapisan dengan logam), karet dan plastik, fotografi dan percetakan. – Merusak sistem pernafasan, syaraf, dan otak
– Muntaber, liver, dan ginjal
– Tekanan darah tinggi dan anemia
Hexavelent Chromium (Cr) Bahan kemasan, katalis, plating, pigmen – Peradangan sistem pencernaan. Iritasi hidung. Penyakit liver dan ginjal
Mercury (Hg) Bahan kemasan, switch listrik, lampu, barometer logam, boiler, plastik, pigmen, cat, tinta, indikator – Merusak sistem saraf, otak, dan pernafasan
– Penyakit kulit, pengelihatan dan pendengaran
– Menghambat perkembangan janin
Lead (Pb) Bahan pelapis, bahan kemasan, baterai, pelindung radiasi, tutup kabel, pipa, solder logam, cat. – Merusak sistem saraf pusat
– Kelainan sistem reproduksi dan kelahiran prematur
– Mempengaruhi perkembangan mental dan fisik anak
Poly Brom (PBB & PBDE) Resin, penutup material sambunagn kabel – Merusak jaringan syaraf dan sistem kekebalan tubuh
– Kelainan kelenjar tiroid
– Penyakit lever dan ginjal
– Nyeri sendi, lelah, lemas, penyakit pencernaan dan kulit
Polyvinyl Chloride (PVC) Bahan baku plastik, media pendingin, power cord, papan insulasi, pipa, hose, insulation tape – Kanker dan ganguan kelenjar endokrin serta endometriosis
– Kerusakan syaraf dan kekebalan tubuh
– Kelainan sistem reproduksi dan kelahiran prematur

Sumber: Mitra Panasonic Vol III No 9, Januari – Maret 2008, halaman 14 – 18 dan sumber-sumber lain
 

Budaya Pemakaian

Ramah lingkungan juga terkait dengan budaya pemakaian. Produk yang digunakan secara proporsional dan dirawat dengan baik, usia pakainya akan lebih panjang, konsumsi listrik dan emisinya minimal. AC misalnya, perlu dirawat berkala sesuai dengan tingkat pemakaiannya. Suhunya juga jangan distel terlalu rendah. Suhu 25 derajat sudah nyaman untuk iklim Indonesia.

“Kadang kita ini lucu. Kita stel AC sampai dingin dan tidur pakai selimut. Mending distel wajar dan tidur tidak pakai selimut,” kata Engkos. Kulkas juga jangan terlalu sering dibuka tutup atau dibiarkan tidak tertutup sempurna setelah dibuka. Peletakannya juga perlu diperhatikan. Barang elektronik jangan dibiarkan terkena paparan matahari langsung.

Kulkas yang menyala nonstop, juga komputer (PC), tidak ditaruh terlalu menempel ke dinding karena menutup ruang untuk sirkulasi udara yang membuat kerja kompresor atau mesinnya lebih berat. Ketika diangkat atau dipindahkan, posisi kulkas harus tetap vertikal. Sedangkan mesin cuci harus stabil tegaknya. Sehabis digunakan sebaiknya dikeringkan. Setelah itu baru ditutup.

Semua itu tercantum di petunjuk pemakaian. Karena itu pahami dengan baik sebelum mengoperasikan sebuah produk. Terakhir, pilih produk elektronik sesuai kebutuhan, bukan karena gengsi atau mengikuti tren. Sering karena tren kita memakai produk yang terlalu besar. Atau produk belum habis usia pakainya, sudah diganti yang baru. Akibatnya, produk lebih cepat menjadi sampah.

 

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat.
atau
Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.

Berita Terkait

Ekonomi

Meningkat Pesimisme Pelaku Industri Terhadap Prospek Usahanya

Penurunan ekspansi manufaktur Indonesia pada Maret 2026, baik karena...

Bank Mandiri Telah Salurkan KUR Senilai Lebih Rp310 Triliun

Bank Mandiri terus mempertegas komitmennya sebagai mitra strategis pemerintah...

Berita Terkini