Pembangunan Rumah Susun Baru Sebatas Wacana
Para pemangku kepentingan di bidang perumahan punya pandangan serupa mengenai pembangunan rumah susun (Rusun). Pemerintah, pengamat, dan pengembang mengakui bahwa Rusun menjadi solusi hunian masa depan di perkotaan. Pembangunan hunian horizontal atau rumah tapak hanya akan menghabiskan lahan, menjauh dari pusat kota, mencaplok tanah-tanah produktif, dan melahirkan inefisiensi. Namun pandangan itu baru sebatas wacana, belum ada tindakan kongkret untuk mewujudkan.

“Lahan itu pilar pembangunan, mana lebih mudah, membangun rumah di udara atau membangun pertanian di udara? Kalau lebih mudah membangun rumah maka itu yang kita dukung,” kata Ambo Ala, pakar dari Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, dalam diskusi tentang pembangunan rumah susun milik (Rusunami) di perkotaan, yang digelar Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera) di Jakarta, Selasa (2/9).
Alih fungsi lahan memang tidak dapat dibendung karena pertumbuhan masyarakat membutuhkan hunian dan infrastruktur. Tapi, kata Ambo, ada UU No. 41/2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. “UU sudah mengatur daerah untuk memproteksi lahan, semua provinsi harus membentuk lahan pertanian dan lahan cadangan. Sudah lima tahun UU ini berlaku, belum satu pun yang melaksanakan,” tandasnya.
Di tempat yang sama, Sri Hartoyo, Deputi Bidang Pembiayaan Kemenpera, mengingatkan, dalam beberapa tahun mendatang dibutuhkan 31 juta rumah, sebanyak 18,5 juta ada di perkotaan, sisanya 12,5 juta di pedesaan. “Kalau semua merupakan rumah landed, butuh 1,7 miliar m2 tanah sementara kalau dibuat Rusun efisiensinya di atas 400 persen,” ujarnya. Untuk menuju ke sana perlu prakondisi dan mulai sekarang harus diatur. Masa transisi itu disiapkan agar masyarakat bisa menerima dan lebih siap tinggal di Rusun.
Bernaldi, Asisten Deputi Bidang Kerja Sama dan Kemitraan Antar Lembaga Kemenpera, mengatakan, penyediaan hunian yang kerap mengorbankan lahan produktif disebabkan kelangkaan dan mahalnya harga tanah di perkotaan. “Karena itu pembangunan Rusun itu mutlak. Lahan 1 ha untuk rumah tapak hanya jadi 40-50 unit, kalau dibangun Rusun bisa dapat 1.000 unit, itu pun lahannya tersisa 60 persen untuk ruang terbuka,” katanya. Yudis