Kenapa Air dan Listrik di Apartemen Bayarnya ke Pengelola?
Listrik, air, dan area parkir adalah fasilitas yang kerap memicu konflik antara penghuni dan pengelola apartemen di sebuah apartemen. Kasus terhangat adalah konflik penghuni dengan pengelola soal air bersih di sebuah apartemen menengah bawah di bilangan Daan Mogot, Jakarta Barat.
Konflik listrik dan air di apartemen itu muncul karena penyalurannya dilakukan pengelola (developer), bukan PLN dan PDAM seperti di rumah tapak. Bila tagihan air dan listrik itu tinggi, penghuni pun protes karena menganggap pengelola suka-suka mengenakan tarif. Penghuni apartemen Kalibata City, Jakarta, misalnya, sampai menggugat pengelola ke pengadilan soal tarif air dan listrik itu.
Sedangkan konflik parkir mencuat karena sejak awal penghuni tidak memastikannya, dan pengembang apartemen juga tidak menegaskannya. Di brosur developer memang sudah menyebutkan rasio parkir yang akan disediakan di apartemen yang dikembangkannya, atau bahkan tanpa fasilitas parkir karena misalnya, akses apartemennya sepenuhnya mengandalkan transportasi umum. Tapi, saat ditanya konsumen, jawaban pengembang kerap tidak tegas karena khawatir transaksi tidak berlanjut.
Padahal, umumnya pembeli apartemen adalah kaum menengah pemilik mobil. Walhasil, banyak konsumen beranggapan pasti mendapatkan parkir untuk mobilnya seperti kalau membeli rumah tapak yang pasti menyediakant carport. Konflik pun sulit dihindari saat kenyataannya tidak demikian. Makin rendah rasio parkirnya, kian mudah konflik terpicu.
“Setiap bulan saya bayar service charge Rp1 juta, listrik dan air Rp700 ribu, parkir Rp150 ribu per bulan. Tapi, biaya bulanan ini tidak menjamin saya dapat parkir. Kalau pulang malam bisa nggak dapet. Jadi, diparkirin satpam, kuncinya dititip sama dia. Parkir bulanan itu cuma supaya kita nggak kena parkir jam-jaman Rp4 ribu (per jam),” kata Evangelina (28), seorang dokter spesialis di Jakarta, yang menghuni unit dua kamar di sebuah apartemen di bilangan Matraman, Jakarta.
Keluhan soal parkir itu juga pernah diutarakan Acho (Muhadkly MT), penghuni apartemen Green Pramuka, Jakarta, yang ramai di media massa beberapa tahun lalu, dan memicu gugatan hukum dari developer karena menilai stand-up comedian itu melakukan pencemaran nama baik.
Jadi, sejak awal konsumen harus memastikan ketersediaan fasilitas parkir itu, apakah gratis atau dikenai biaya bulanan. Kalau bisa menerima kondisinya, lanjutkan transaksi. Bila tidak, cari apartemen lain yang rasio dan sistem parkirnya dirasa lebih sreg. “Jangan biarkan mengambang, nanti setelah menghuni apartemen baru ribut,” kata Mualim Wijoyo, direktur sebuah perusahaan pengelola apartemen di Jakarta.
Tentang listrik dan air, untuk meredam konflik ada gagasan setiap unit apartemen mendapat sambungan langsung dari PLN dan PDAM seperti di rumah biasa. Praktik saat ini, jalurnya hanya sampai di gardu apartemen. Dari gardu ke setiap unit hunian ditangani developer. Namun, menurut Ardi Andaru, profesional PT Adhi Commuter Properti (ACP), developer apartemen LRT City, dalam sebuah wawancara dengan housingestate.id, gagasan itu sulit dipenuhi.
Desain apartemen yang menampung ratusan atau ribuan unit hunian di satu bangunan tinggi, harus memenuhi aspek efisiensi, efektifitas, keselamatan, kepraktisan, privasi, dan lain-lain. Karena itu setiap infrastrukturnya harus merupakan satu kesatuan untuk memudahkan pengelolaan dan pemeliharaan.
“Di apartemen jaringan listrik dan air sulit disambungkan langsung ke setiap unit hunian seperti di rumah tapak. Lebih efisien seperti sekarang. Listrik dan air disatukan di gardu yang dibangun developer, setelah itu baru disalurkan ke setiap unit. Dari sisi keselamatan juga lebih terjaga. Kalau langsung disambung ke setiap unit, pengelolaannya jadi ribet. PLN dan PDAM juga tidak mau,” tuturnya.
Kini dengan sistem listrik prabayar, pengecekan meteran tidak diperlukan lagi. Jadi, potensi konflik bisa direduksi. Bahwa, tarif listrik dan air sedikit lebih tinggi, ia menilainya wajar karena ada service charge. Untuk menyalurkan air ke setiap unit apartemen misalnya, perlu pompa tekan dengan kapasitas dan daya yang besar.