Kamis, Januari 22, 2026
HomeNewsEkonomiMenkeu Guyur Likuiditas Rp200 triliun, Tapi Penyaluran Kredit Malah Turun

Menkeu Guyur Likuiditas Rp200 triliun, Tapi Penyaluran Kredit Malah Turun

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengguyur pasar dengan likuiditas segar Rp200 triliun September lalu. Tujuannya mendorong penyaluran kredit lebih tinggi, yang selanjutnya diharapkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

November ini menyusul sedikit menurunnya pertumbuhan likuiditas (jumlah uang beredar) di pasar menjadi 7,7 persen pada Oktober dibanding 8 persen pada September, Purbaya menambah lagi guyuran likuiditas itu Rp76 triliun. Semuanya ditempatkan di bank-bank BUMN anggota HIMBARA.

Namun, laporan Bank Indonesia (BI) yang dirilis 19 November 2025 mengungkapkan, guyuran likuiditas Menkeu yang didukung ekspansi moneter BI melalui penurunan BI Rate dan insentif likuiditas KLM itu, tidak membuat penyaluran kredit meningkat, sebaliknya malah menurun.

Baca juga: Likuiditas Memadai, Tapi Bank Malas Turunkan Bunga. Ini Penyebabnya

Menurut laporan BI itu, kredit perbankan pada Oktober 2025 tumbuh sebesar 7,36 persen (yoy), melambat dibanding September sebesar 7,70 persen (yoy).

Sebagai perbandingan, pada Agustus 2025 penyaluran kredit tumbuh 7,56 persen, Juli 7,03 persen, Juni 7,77 persen, Mei 8,43 persen, dan empat bulan sebelumnya antara 9-10 persen.

Penyaluran kredit yang kembali melambat itu, kata laporan BI, karena suku bunga kredit yang masih relatif tinggi, ditambah permintaan kredit yang memang belum kuat yang dipengaruhi oleh sikap pelaku usaha yang masih menahan ekspansi (wait and see), dan memilih mengoptimalkan pembiayaan internal perusahaan.

Boro-boro mengajukan kredit, pinjaman dunia usaha yang sudah disetujui pun banyak yang belum ditarik. BI mencatat, fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) pada Oktober 2025 mencapai Rp2.450,7 triliun atau 22,97 persen dari plafon kredit yang disetujui. Angka ini praktis tidak berubah dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Baca juga: Bunga Masih Tinggi, Penyaluran Kredit Stagnan, Kredit yang Belum Dicairkan Besar

Minat penyaluran kredit perbankan sendiri disebut BI secara umum sudah membaik. Tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang makin longgar.

Namun, lending requirement untuk segmen kredit konsumsi dan UMKM masih meningkat, sejalan dengan tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut akibat masih lemahnya daya beli.

Karena itu pertumbuhan kredit UMKM Oktober 2025 turun menjadi -0,11 persen atau terkontraksi. Sedangkan kredit konsumsi masih tumbuh namun makin menurun. Keduanya mempengaruhi penurunan kredit secara keseluruhan. Karena semua perkembangan itu, BI merevisi target pertumbuhan kredit 2025 ke batas bawah kisaran 8-11 persen.

Berita Terkait

Ekonomi

Diskon Tarif Transportasi Efektif Dongkrak Mobilitas Masyarakat di Akhir Tahun

Gune menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di akhir tahun, pemerintah...

Kinerja Manufaktur 2025 Jalan di Tempat, Penyerapan Tenaga Kerja Masih Payah

Industri pengolahan atau manufaktur adalah penopang terbesar pertumbuhan ekonomi...

Kadin Optimistis Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5 Persen

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar forum diskusi...

Harga Saham Bank BJB Menguat, Cerminkan Stabilitas dan Keyakinan Pasar

Memasuki awal tahun 2026, saham bank bjb menunjukkan momentum...

Berita Terkini