Jumat, Januari 16, 2026
HomeBerita PropertiYayat Supriatna: Terima Sajalah Kalau Jakarta Banjir

Yayat Supriatna: Terima Sajalah Kalau Jakarta Banjir

Masih di awal tahun 2026 wilayah Jakarta dan sekitarnya kembali dikepung banjir akibat curah hujan tinggi yang mengguyur beberapa hari sejak akhir pekan lalu. Curah hujan yang tinggi di kawasan dan di area hulu langsung berimplikasi pada meningkatnya muka air di beberapa sungai yang melintas Jakarta yang membuatnya banjir.

Harus diakui kalau menyelesaikan permasalahan banjir di Jakarta memang persoalan sulit. Dari masterplan pengendalian banjir Jakarta yang dibuat tahun 1973 oleh Belanda misalnya, kalaupun ini diterapkan tidak akan bisa lagi mendukung dengan kondisi Jakarta pada hari ini.

Pada kajian berikutnya, berdasarkan masterplan itu kapasitasnya harus ditingkatkan hingga tiga kali lipat dan dengan kondisi saat ini hal itu menjadi tidak mungkin. Itu karena kondisi Jakarta yang semakin parah di mana fungsi resapan banyak yang hilang, pendangkalan sungai tinggi, drainase tidak terpelihara, urbanisasi, hingga perumahan-perumahan yang dibangun dengan tidak memiliki sistem drainase.

“Tentu ini menjadi PR besar untuk kita semua, makanya berhenti mengeluh kalau setiap kali Jakarta banjir. Kalau tidak ada perubahan yang signifikan, terima saja kalau kondisi hingga saat ini memang kita tidak mampu untuk mengatasi banjir Jakarta,” ujar Yayat Supriatna kepada housingestate.id Selasa (13/01).

Baca juga: Dua Bendungan Kering Ini Akan Kurangi Banjir Jakarta

Yayat merupakan pengamat perkotaan dan Dosen Teknik Planologi, Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti. Melanjutkan keterangannya, Yayat menyebut hilangnya resapan air langsung berdampak pada run off atau aliran sungai yang tinggi melintas di kepadatan penduduk maupun aktivitas Jakarta.

Dari gubernur ke gubernur yang memimpin Jakarta semuanya memiliki rencana untuk penanganan banjir tapi nyatanya hingga saat ini belum bisa diatasi. Dengan kondisi seperti ini apa yang bisa kita lakukan?

“Paling minimal dengan mengurangi wilayah genangan yang cukup banyak, mengurangi tingkat waktu genangan, kemudian mengoptimalkan berbagai kondisi yang bisa mempercepat masalah-masalah kondisi muka air,” jelas Yayat.

Praktiknya, apakah kita mampu menciptakan berbagai upaya untuk meresapkan air semaksimal mungkin, mengoptimalkan pompa-pompa yang sudah ada, atau untuk jangka panjang melakukan pengerukan atau normalisasi sungai untuk mengembalikan kondisi sistem tata kelola air yang sampai hari ini belum bisa dibenahi.

Baca juga: Soal Banjir Jabodetabek, Perlu Pembenahan Bantaran Sungai, RTH, Hingga Pembuatan Resapan Air

Di sisi lain berbagai tantangan juga sudah menghadang di depan mata. Kondisi-kondisi yang terus berubah baik dari siklus alam, cuaca, hingga pemanasan global yang nyatanya masih gagap kita antisipasi. Harus dicari berbagai hal terbaik untuk setidaknya langkah pendek yang bisa mengatasi masalah banjir yang saat ini kembali terjadi.

“Jadi untuk sementara kita harus bisa menerima kondisi ini sebagai bagian dari masalah Jakarta dan berharap bisa memberikan yang terbaik. Banjir ini semakin lama juga akan semakin menyentuh zona-zona yang saat ini tidak banjir dan dengan kondisi yang terus berubah harus ada solusi besar supaya dampaknya juga signifikan,” pungkas Yayat.

Berita Terkait

Ekonomi

Dari Pantai, Goa, Hingga Waterfall, Ada Semua di Maluku Tenggara

Ada banyak panorama alam yang bisa dinikmati di “seribu...

November 2025 Utang Luar Negeri Pemerintah Menurun

Bank Indonesia (BI) melaporkan, Kamis (15/1/2026), utang luar negeri...

Tahun Ini Pemerintah Targetkan Kunjungan Turis Asing Hingga 17,6 Juta

Pemerintah akan menggenjot sektor pariwisata, karena kontribusinya yang kian...

Diklaim Sukses Tahun 2025, Paket Stimulus Ekonomi Dilanjutkan Tahun Ini

Pemerintah melalui Kemenko Perekonomian telah merumuskan Paket Stimulus Ekonomi...

Berita Terkini