Kinerja Manufaktur 2025 Jalan di Tempat, Penyerapan Tenaga Kerja Masih Payah
Industri pengolahan atau manufaktur adalah penopang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kontribusi sekitar 20 persen. Karena itu kinerja manufaktur menjadi perhatian banyak pihak dengan memotret kondisinya melalui aneka survei, termasuk Bank Indonesia (BI).
BI melaporkan, Selasa (20/1/2026), kinerja manufaktur pada triwulan IV 2025 meningkat. Tercermin dari Prompt Manufacturing Index (PMI) yang tetap berada di zona ekspansi (indeks >50 persen) sebesar 51,86 persen, naik tipis dibanding triwulan III sebesar 51,66 persen.
Hal itu ditopang ekspansi 3 dari 5 komponen pembentuk PMI: volume produksi (PMI 53,46 persen atau menurun dari 53,62 persen pada triwulan III), volume total pesanan (53,31 persen atau naik dari 52,82 persen triwulan III), dan volume persediaan barang jadi (53,46 persen atau naik dari 52,68 persen triwulan tiga).
Volume produksi tetap ekspansif kendati indeksnya menurun, karena permintaan pasar yang masih kuat, yang tercermin dari kenaikan indeks volume total pesanan.
BI memperkirakan pada triwulan I 2026, volume produksi makin meningkat dengan indeks 54,82 persen. Didukung akselerasi volume total pesanan yang kian ekspansif pada trowulan I 2026 dengan indeks 55,05 persen.
Begitu pula kenaikan PMI volume persediaan barang jadi, sejalan dengan kenaikan volume total pesanan, yang diprediksi berlanjut pada triwulan I 2026 menjadi 54,22 persen.
Baca juga: Permintaan Domestik Meningkat, Pelaku Industri Jadi Lebih Optimis
Sementara komponen kecepatan penerimaan barang input, pada triwulan IV 2025 masih berada di zona kontraksi (indeks <50) dengan indeks 49,32 persen dibanding triwulan tiga 49,35 persen.
Demikian pula komponen jumlah tenaga kerja, masih berada di zona kontraksi dengan indeks 48,80 persen pada triwulan IV 2025 dibanding 48,70 pada triwulan III. Triwulan satu tahun ini kinerja komponen tenaga kerja diperkirakan masih di zona kontraksi dengan indeks 49,85 persen.
Kendati membaik pada triwulan IV, sepanjang 2025 kinerja industri manufaktur praktis jalan di tempat kendati tetap berada di zona ekspansi, dengan indeks rata-rata 51 persen.
Kalau pada triwulan IV 2024 PMI tercatat 51,58 persen, triwulan I 2025 naik sedikit menjadi 51,67 persen, kemudian turun pada triwulan II 2025 menjadi 50,89 persen. Pada triwulan III PMI naik lagi sedikit menjadi 51,66 persen dan 51,86 persen pada triwulan IV.
Menurut BI, sebagian besar lapangan usaha manufaktur berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman, industri barang galian bukan logam, serta industri makanan dan minuman.
Perkembangan itu sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI triwulan IV 2025 yang mengungkapkan, kinerja kegiatan manufaktur tetap kuat dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) 1,18 persen, namun menurun dibanding triwulan III sebesar 1,61 persen.
Baca juga: Penghujung 2025 Manufaktur RI Mengendur
Pada triwulan I 2026, BI memperkirakan, kinerja manufaktur terus meningkat dengan PMI sebesar 53,17 persen. Terutama didorong komponen volume total pesanan, volume produksi, volume persediaan barang jadi, dan kecepatan penerimaan barang input. Sementara PMI jumlah tenaga kerja diperkirakan masih akan berada di zona kontraksi.
Mayoritas lapangan usaha diperkirakan berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri furnitur, industri logam dasar, serta industri makanan dan minuman.