Selama 2025 Kredit Ternyata Tumbuh Lumayan, Tapi Kredit yang Belum Dipakai Masih Tinggi
Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG) di Jakarta, 20-21 Januari 2026, yang dipubliksikan, Rabu (21/1/2026), menyatakan, ketahanan sistem keuangan terjaga baik. Didukung likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang rendah.
Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada November 2025 tercatat tinggi sebesar 26,05 persen. Tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit.
Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat juga tetap rendah, sebesar 2,21 persen (bruto) dan 0,86 persen (neto) pada November 2025.
Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan, ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko. Ditopang kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga.
Sementara kredit perbankan selama 2025 tumbuh 9,69 persen (yoy), dalam kisaran prakiraan Bank Indonesia sebesar 8-11 persen (yoy). Sebagai perbandingan, pertumbuhan kredit pada 2024 mencapai 10,93 persen.
Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi pada 2025 masing-masing tercatat 21,06 persen (yoy), 4,52 persen (yoy), dan 6,58 persen (yoy).
Capaian tersebut sejalan dengan upaya BI untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), serta realisasi program prioritas pemerintah di tengah kondisi makro dan keuangan yang terjaga.
Baca juga: Pinjaman yang Belum Dicairkan Kian Meningkat, Penyaluran Kredit Memang Belum Kuat
Kendati pertumbuhan tidak buruk-buruk amat selama 2025, BI menilai pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha, dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang masih besar pada Desember 2025. Mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari plafon.
Kapasitas pembiayaan bank sendiri tetap memadai. Ditopang rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57 persen, dana pertumbuhan simpanan atau dana pihak ketiga (DPK) yang tinggi sebesar 13,83 persen (yoy) pada Desember 2025.
Baca juga: Simpanan Masyarakat di Bank Tumbuh Tinggi, Tapi Penyaluran Kredit Kian Menurun
Minat penyaluran kredit oleh perbankan juga terus membaik. Tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang makin longgar, kecuali untuk kredit konsumsi dan UMKM, akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.
“Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 di kisaran 8-12 persen. Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan KSSK untuk memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit tersebut,” tulis hasil RDG BI.