Kata BI Ekonomi Global Tahun Ini Melambat, Ekonomi RI Makin Baik
Perekonomian dunia masih dalam tren melambat dengan ketidakpastian yang meningkat. Bank Indonesia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi dunia 2026 sedikit lebih rendah menjadi 3,2 persen dibanding 3,3 persen tahun lalu.
Hal itu terungkap dari hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) 20-21 Januari 2026, yang dirilis di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih rendah itu, terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan kerentanan rantai pasok global, meskipun prospek ekonomi AS sendiri membaik karena investasi sektor teknologi termasuk artificial intelligence (AI) dan stimulus fiskal pengurangan pajak.
Sedangkan pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India pada 2026 diprakirakan melambat, akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor, di tengah investasi AI yang juga meningkat.
Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik, kendati makin perlu ditingkatkan agar sesuai dengan kapasitas perekonomian.
BI memperkirakan, pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 lebih tinggi, ditopang kenaikan permintaan domestik sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi dan peningkatan stimulus fiskal.
Secara spasial, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tercatat di wilayah Bali-Nusa Tenggara (Balinusra), diikuti Jawa dan Kalimantan, didorong kenaikan permintaan domestik.
Baca juga: Dorong Pertumbuhan Ekonomi, BI Akan Turunkan Lagi BI Rate dan Tambah Insentif Likuiditas
Pertumbuhan ekonomi RI keseluruhan tahun 2025 diprakirakan berada di kisaran 4,7–5,5 persen, dan pada 2026 makin meningkat ke kisaran 4,9–5,7 persen.
Ditopang kenaikan permintaan domestik sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah, dan berlanjutnya dampak positif dari bauran kebijakan BI (penurunan BI Rate, stabilisasi rupiah, likuiditas longgar) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
BI berpendapat, efektivitas berbagai program stimulus pemerintah tahun 2026, perlu diperkuat untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja. Investasi juga diprakirakan lebih tinggi, ditopang oleh berlanjutnya program prioritas pemerintah termasuk hilirisasi sumber daya alam (SDA).
BI mengklaim, terus memperkuat bauran kebijakan melalui penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan.