Januari Kepercayaan Industri Cetak Rekor Tertinggi, Produksi Melonjak
Industri pengolahan atau manufaktur nasional mengawali tahun 2026 dengan tren yang makin positif. Tergambar dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 sebesar 54,12, meningkat 2,22 poin dibanding Desember 2025, sekaligus menjadi capaian tertinggi sejak IKI pertama kali dirilis November 2022.
“IKI Januari 2026 ini juga lebih tinggi 1,02 poin dibandingkan Januari 2025, yang menandakan penguatan kepercayaan pelaku manufktur terhadap prospek usaha di awal tahun,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief dalam rilis IKI Januari 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026). Indeks >50 menandakan manufaktur berekspansi, indeks <50 menandakan kontraksi alias menurun.
Kebijakan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate 4,75 persen, dinilai memberikan sinyal stabilitas bagi dunia usaha. Sejalan dengan upaya pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta konsistensi pencapaian sasaran inflasi 2026–2027 sebesar 2,5±1 persen.
Serupa dengan IKI, Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia versi S&P Global pada Desember 2025 juga mencatat ekspansi dengan indeks 51,2. Menandai ekspansi selama lima bulan berturut-turut, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan November 2025.
Sejalan dengan itu, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) pada triwulan IV 2025, juga meningkat menjadi 51,86 persen dan diproyeksikan terus menguat pada triwulan I 2026.
Menurut Febri, struktur IKI Januari 2026 menunjukkan perbaikan merata. Dari 23 subsektor industri pengolahan, sebanyak 20 subsektor berada pada fase ekspansi, dan hanya 3 subsektor yang masih kontraksi.
Subsektor yang berada pada fase ekspansi tersebut memberikan kontribusi sebesar 94,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Industri Pengolahan Nonmigas.
“Kami menilai peningkatan IKI itu terjadi, karena pelaku industri mulai mengintensifkan kegiatan produksi untuk merespons dan memenuhi peningkatan permintaan menjelang Ramadan, Idul Fitri, serta hari raya keagamaan lainnya,” jelas Febri.
Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Kendaraan Bermotor, Trailer dan Semi Trailer, serta Industri Mesin dan Perlengkapan.
“Kenaikan IKI pada subsektor ini juga dipengaruhi oleh respons positif pelaku industri terhadap surat Menteri Perindustrian kepada Menteri Keuangan. Meskipun demikian, usulan tersebut masih dalam proses pembahasan antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan,” ungkap Jubir Kemenperin.
Baca juga: Industri Otomotif Melempem, Indeks Kepercayaan Industri Melemah
Sementara subsektor yang masih mengalami kontraksi, adalah Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki, Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus, serta Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik. Kontraksi pada subsektor tersebut antara lain dipengaruhi oleh pelemahan permintaan ekspor, faktor musiman, serta dampak kondisi geopolitik global.
Berdasarkan komponen penyusunnya, seluruh variabel IKI pada Januari 2026 berada di zona ekspansi. Indeks pesanan tercatat sebesar 55,27, meningkat 2,51 poin.
Indeks produksi melonjak ke level 54,86 atau naik 6,45 poin, setelah mengalami kontraksi selama tujuh bulan berturut-turut pada 2025. Sementara indeks persediaan berada pada level 50,14, menurun dibandingkan Desember 2025.
“Kembalinya variabel produksi ke zona ekspansi, karena karena pekau industri sedang intensif memproduksi barang untuk memenuhi peningkatan demand hari besar keagamaan pada Februari dan Maret 2026,” tutur Febri.
Survei IKI menunjukkan kegiatan usaha secara umum masih tergolong baik. Sebanyak 78,5 persen responden menyatakan kegiatan usahanya membaik dan stabil, meningkat dibandingkan Desember 2025.
Tingkat optimisme pelaku industri juga mengalami perbaikan menjadi 72,5 persen, sementara tingkat pesimisme menurun menjadi 4,5 persen.
IKI berorientasi ekspor pada Januari 2026 tercatat sebesar 54,62, meningkat 2,26 poin dibandingkan Desember 2025. IKI berorientasi pasar domestik juga mengalami peningkatan dan tetap berada di zona ekspansi.
“Kondisi ini mencerminkan permintaan dalam negeri, masih menjadi penopang utama kinerja industri, di tengah tantangan pasar global yang belum sepenuhnya pulih,” kata Febri.
Baca juga: Penghujung 2025 Manufaktur RI Mengendur
Penguatan IKI juga didukung oleh meningkatnya realisasi investasi industri pengolahan. Pada triwulan IV 2025, realisasi investasi industri pengolahan mencapai Rp218,2 triliun atau menyumbang 43,9 persen terhadap total investasi nasional.
Kenaikan impor barang modal yang mencapai 17,27 persen secara tahunan pada November 2025, mengindikasikan adanya ekspansi kapasitas dan peremajaan mesin di sektor industri.
“Capaian IKI Januari 2026 menjadi modal awal yang kuat bagi industri nasional, untuk terus tumbuh berkelanjutan sepanjang tahun 2026,” pungkas Jubir Kemenperin.