Jumat, Februari 13, 2026
HomeBankPerbankan Syariah Indonesia Masih Rumit dan Marginnya Mahal

Perbankan Syariah Indonesia Masih Rumit dan Marginnya Mahal

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, namun masih tertinggal dalam pengembangan keuangan syariah secara global.

“Pusat syariah bukan di Jakarta, namun di London, Hong Kong, Singapura. Kita ketinggalan sekali dalam hal itu,” kata Menkeu dalam sambutannya pada Syariah Economic Forum yang diadakan Metro TV di Jakarta, Kamis (12/2/2026), sebagaimana dikutip keterangan tertulis Kemenkeu.

Hal itu bisa terjadi karena kebijakan nyata yang mendorong ekonomi syariah belum terlihat jelas dalam pembangunan. Ia juga menyoroti praktik perbankan syariah di Indonesia yang belum kompetitif dari sisi pembiayaan dan rumit bagi pelaku usaha.

Menkeu Purbaya menilai, Indonesia seharusnya lebih mampu menerapkan ekonomi syariah secara lebih substansial, bukan sekadar mengganti istilah bunga dengan skema lain (margin) yang harganya justru lebih mahal.

Baca juga: Aset Bank Syariah Tembus Rp1.028,18 Triliun. Tapi Hampir Semuanya Masih Bank Kecil

Pemerintah telah menerbitkan green sukuk untuk membangun ekosistem keuangan syariah dan membiayai proyek nyata di dalam negeri. Menkeu menghimbau para pelaku usaha dan komunitas ekonomi syariah bersinergi merumuskan strategi pembangunan ekonomi syariah ke depan.

“Pemerintah siap mendukung usulan atau proposal dari dunia ekonomi syariah, yang menurut saya selama ini belum optimal. Kalau dioptimalkan, pasar dalam negeri akan dikuasai produsen dalam negeri, kita juga bisa menguasai pasar internasional secara bertahap,” ujar Menkeu.

Ia menambahkan, ekonomi syariah tidak boleh lagi diposisikan sebagai pelengkap dalam pembangunan nasional, melainkan salah satu pilar utama strategi ekonomi Indonesia ke depan.

“Ekonomi syariah adalah bagian dari strategi besar pembangunan, sejajar dengan ekonomi hijau dan ekonomi digital. Bukan simbol, bukan retorika, tapi instrumen nyata dalam memperkuat kemandirian ekonomi bangsa,” tandas Purbaya.

Baca juga: Pasar Perbankan Syariah Baru 7,33 Persen. OJK: Jangan “Head to Head” dengan Bank Konvensional

Per September 2025 menurut Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), total aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp12.698 triliun, tumbuh 26,4 persen (yoy), jauh melampaui pertumbuhan aset keuangan nasional yang 11,5 persen. Market share keuangan syariah juga naik menjadi 30,9 persen dari 27,3 persen pada 2024.

Namun, setelah 34 tahun beroperasi di Indonesia (dimulai dengan Bank Muamalat pada 1 November 1991), perbankan syariah Indonesia baru mencatat total aset Rp1.006 triliun per September 2025, tumbuh 9,4 persen (yoy) dengan market share 7,7 persen dari total aset perbankan nasional.

Berita Terkait

Ekonomi

Setelah dengan Apindo, Presiden Ngobrol 4,5 Jam dengan 5 Pengusaha Kakap

Setelah menerima audiensi para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi...

Jaga Defisit Anggaran di Bawah 3 Persen, Pemerintah Kejar Tax Ratio 12 Persen

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan tiga jurus pemerintah...

Tiket Diskon Transportasi Libur Idul Fitri Sudah Bisa Dipesan 11 Februari

Pemerintah kembali melansir program stimulus ekonomi, dengan mendorong peningkatan...

Berita Terkini