Rabu, Februari 18, 2026
HomeBerita PropertiStok Rumah Seken Melonjak, Banyak yang BU dan Mau Jual Cepat

Stok Rumah Seken Melonjak, Banyak yang BU dan Mau Jual Cepat

Berbanding terbalik dengan stok rumah baru yang melorot karena pengembang menunda peluncuran produk baru, pada semester dua 2025 pasar rumah seken justru mencatat penambahan stok yang konsisten.

Mengutip “Indonesia Residential Market, Report 2025 H2 & Outlook 2026” versi marketplace properti Pinhome yang dilansir pekan lalu, rata-rata pertumbuhan penambahan inventori rumah seken mencapai 5 persen per bulan sepanjang semester dua 2025.

Peningkatan stok ini didorong oleh faktor desakan ekonomi. Gelombang PHK di sektor manufaktur dan kenaikan biaya hidup, memaksa banyak pemilik properti—khususnya investor dan pemilik rumah kedua—melepas aset mereka demi mendapatkan uang tunai.

Properti yang sebelumnya dijadikan instrumen investasi jangka panjang, kini dikonversi menjadi sumber dana darurat untuk menjaga arus kas rumah tangga.

Peningkatan inventori rumah seken paling signifikan terkonsentrasi di kawasan penyangga Jakarta. Yakni, di Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan, masing-masing menyumbang 8 persen dari total penambahan inventori rumah seken. Konsentrasi ini mencerminkan karakter wilayah tersebut sebagai kantong investasi properti selama beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Biaya Transportasi Lebih Rendah, Harga Rumah Turun, Rumah di Bogor Jadi Lebih Menarik

Diikuti Kota Bekasi, Jakarta Selatan, dan jakarta Timur antara 5-6 persen, serta Bandung, Kabupaten Bekasi, Surabaya, dan Kabupaten Tangerang antara 4-5 persen.

Tren BU menekan harga
Selain penambahan total inventori, karakteristik inventori properti yang masuk ke pasar juga mengindikasikan adanya tekanan likuiditas dari pemiliknya.

Data internal Pinhome mengungkapkan, rata-rata pertumbuhan bulanan penambahan inventori yang menyertakan keterangan urgensi penjualan mencapai 15 persen selama semester dua 2025, seperti penggunaan label “Butuh Uang (BU)”, “Jual Cepat”, atau penawaran harga di bawah pasar.

Inventori rumah seken kategori ini umumnya dipasarkan dengan harga yang terpaut cukup jauh di bawah median harga pasar di kawasan. Kehadiran inventori dengan harga miring ini menciptakan standar harga baru yang lebih kompetitif.

Akibatnya, pemilik properti lain yang menjual dengan harga normal, dipaksa melakukan penyesuaian atau koreksi harga agar aset mereka tetap dilirik calon pembeli. Kondisi ini memicu penurunan rata-rata harga pasar secara bertahap di berbagai area padat hunian.

Baca juga: Pertumbuhan Harga Rumah di Depok Tertinggi di Jabodetabek

Meski memberikan tekanan pada sisi penjual, menurut Pinhome fenomena ini justru menciptakan momentum yang sangat menguntungkan bagi pembeli strategis dan investor untuk mengamankan aset berkualitas pada titik harga terendah.

Koreksi harga ini dipandang sebagai fase transisi menuju pasar yang lebih likuid, yang akan menjadi pondasi bagi pertumbuhan nilai properti yang lebih sehat di masa depan.

Berita Terkait

Ekonomi

Berita Terkini