Proptech Ini Prediksi Bisnis Properti 2026 Makin Baik
Riset start up property technology (proptech) Pinhome bertajuk “Indonesia Residfential Market Report 2025 H2 & Outlook 2026” yang dilansir pekan lalu menyatakan, tahun ini diproyeksikan menjadi periode akselerasi bagi bisnis properti.
Didukung target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, alokasi belanja pemerintah yang lebih tinggi, dan komitmen menjaga defisit fiskal di level 2,68 persen Produk Domestik Bruto (PDB).
Sementara di sisi pembiayaan, ada ruang penurunan bunga lebih lanjut di sistem perbankan yang akan meningkatkan penyaluran kredit rumah, yang tahun lalu hanya tumbuh 7,74 persen secara tahunan (yoy).
Di sisi inventori (suplai), kendala modal kerja yang dialami pengembang skala kecil dan menengah tahun lalu, mulai teratasi dengan adanya Kredit Usaha Rakyat (KUR) bidang perumahan atau Kredit Program Perumahan (KPP) berbunga rendah.
Dengan pulihnya aktivitas pengembang di segmen menengah ke bawah, Pinhome berpendapat, kebuntuan suplai rumah dengan harga terjangkau diharapkan mulai terurai tahun ini, seiring meningkatnya minat beli masyarakat.
Meskipun secara umum terdapat pola musiman, di mana minat pencarian rumah cenderung melemah di akhir tahun akibat pengalihan prioritas pengeluaran konsumen, segmen hunian di bawah Rp1 miliar menunjukkan ketahanan yang unik.
Pada Desember 2025, riset Pinhome mengungkapkan, pencarian di segmen rumah ini mencatat pertumbuhan 5 persen secara bulanan. Kontras dengan rumah di atas Rp1 miliar yang mengalami penurunan -3 persen pada periode yang sama.
Pertumbuhan pencarian rumah itu mengonfirmasi, batasan harga rumah yang mendapat pembebasan PPN (PPN DTP), masih menjadi acuan utama konsumen dalam mencari hunian primer.
Karena itu, perpanjangan insentif PPN DTP 100 persen hingga Desember 2027, memberikan kepastian jangka panjang bagi calon pembeli rumah pertama dan investor.
Kepastian durasi insentif ini sangat krusial, karena menghilangkan tekanan untuk membeli secara terburu-buru. Konsumen memiliki waktu lebih banyak untuk merencanakan keuangan mereka.
Kebijakan tersebut juga membuat rumah baru dari pengembang, kembali kompetitif dibandingkan dengan rumah seken di pasar sekunder.
Terakhir, secara historis tahun kedua pemerintahan sering kali menjadi periode yang lebih stabil, karena proses konsolidasi kekuasaan dan penyusunan kabinet telah selesai.
Kondisi politik yang lebih tenang ini, memberikan kepastian bagi para pelaku pasar untuk kembali menggerakkan modal mereka, dan mendorong munculnya kembali permintaan yang tertunda sepanjang 2025.
Data internal Pinhome merekam respons awal pasar terhadap prospek bisnis properti 2026 yang diperkirakan lebih terakselerasi itu, melalui kenaikan tren pencarian rumah mewah menjelang akhir 2025.
Segmen rumah mewah (harga di atas Rp3 miliar) menunjukkan pertumbuhan pencarian yang signifikan. Setelah tumbuh 20 persen secara triwulanan pada triwulan tiga 2025, pencarian kembali tumbuh 36 persen pada triwulan empat 2025.
Baca juga: Stok Rumah Seken Melonjak, Banyak yang BU dan Mau Jual Cepat
Lonjakan signifikan itu menunjukkan, para investor besar sudah berani mengambil langkah lebih awal karena menilai risiko ketidakpastian sosial dan politik sudah reda.
Pinhome mencatat, kelompok ini memiliki sensitivitas tinggi terhadap keamanan investasi, dan biasanya melakukan eksekusi sebelum pasar masif (segmen menengah) mulai bergerak, guna menghindari potensi penyesuaian harga di masa depan saat permintaan pasar pulih sepenuhnya.
Selain itu, peningkatan aktivitas di segmen rumah mewah akan memperbaiki likuiditas pengembang besar. Arus kas dari penjualan unit mewah, akan memberikan kapasitas bagi pengembang untuk mempercepat pembangunan dan penyediaan rumah di segmen menengah ke bawah.
Dengan demikian, pemulihan di segmen rumah harga tinggi, merupakan indikator awal bagi peningkatan produktivitas di seluruh lapisan pasar properti pada periode berikutnya.