Daya Beli Lemah, Rata-Rata Nilai Plafon KPR Selama 2025 Melorot
Ketidakpastian ekonomi yang meningkat dan daya beli yang melemah selama 2025, memaksa konsumen bersiasat termasuk dalam membeli rumah. Salah satu siasat itu berupaya mencari kredit pemilikan rumah (KPR) dengan bunga fixed lebih lama dan tenor lebih panjang (minimal 20 tahun).
Selain itu, konsumen rumah juga bertindak lebih konservatif, dengan memilih unit properti yang benar-benar sesuai dengan kemampuan finansial mereka, ketimbang memaksakan diri mengambil rumah dengan nilai tinggi yang berisiko membebani arus kas di masa depan.
Mengutip laporan marketplace properti Pinhome “Indonesia Residential Market, Report 2025 H2 & Outlook 2026” yang dirilis beberapa waktu lalu, fenomena itu mencerminkan sikap hati-hati konsumen merespon situasi ekonomi 2025 yang sempat diwarnai gejolak sosial selama Agustus-September.
Baca juga: KPR Fixed atau Floating, Mana Lebih Cocok?
Sikap lebih konservatif itu, menekan nilai rata-rata atau median plafon (ticket size) kredit rumah yang diambil konsumen. Pada semester I 2025 ticket size KPR itu sempat naik 3 persen dibanding semester II 2024. Tapi, kemudian berbalik arah menjadi merosot secara signifikan pada paruh kedua 2025.
Ticket size KPR pada semester II 2025 mencatat penurunan hampir -17 persen dibanding semester sebelumnya, atau terkoreksi sekitar -14 persen secara tahunan.
Kalau pada semester II 2024 ticket size KPR di Pinhome tercatat Rp700 juta, pada semester I 2025 naik menjadi Rp721 juta, untuk kemudian melorot menjadi Rp598 juta pada semester II 2025.
Menurut riset Pinhome, penurunan nilai rata-rata pengajuan KPR itu tidak harus dilihat sebagai pelemahan pasar atau daya beli, melainkan sebagai bentuk kedewasaan konsumen dalam membeli rumah dan berinvestasi.
Baca juga: Biar KPR Cepat Disetujui Bank, Simak Tips OCBC
“Sikap hati-hati nasabah dalam menyesuaikan plafon kredit dengan pendapatan riil, justru menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih sehat dan tahan banting terhadap risiko kredit bermasalah,” tulis laporan tersebut.
Fokus pasar yang bergeser ke hunian dengan harga lebih terjangkau, juga memastikan industri properti tetap produktif, sekaligus memberi peluang lebih besar bagi konsumen untuk memiliki rumah pertama tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan jangka panjang mereka.