Sabtu, Februari 28, 2026
HomeBerita PropertiMenjadi Personal Trainer Orang Menabung

Menjadi Personal Trainer Orang Menabung

Transformasi digital menjadi keniscayaan industri keuangan dan perbankan hari-hari ini, tak terkecuali Bank Tabungan Negara (BTN). Fokus transformasi pada kemudahan dan efisiensi transaksi. Melalui aplikasi digital, nasabah bisa bertransaksi dari mana saja dan kapan saja, tanpa kendala waktu dan tempat.

BTN melakukan transformasi itu melalui super app Bale by BTN. Sejauh ini kinerjanya mengesankan. Per akhir Desember 2025 misalnya, perolehan dana pihak ketiga (DPK) BTN konsolidasi tumbuh 14,6 persen (yoy) menjadi Rp437,4 triliun, dibanding Rp381,7 triliun pada 2024.

Pertumbuhan DPK dobel digit itu, didukung akselerasi pertumbuhan transaksi digital terutama di Bale by BTN. Transaksi apapun bisa dilakukan melalui Bale, bukan hanya terkait perumahan tapi juga gaya hidup. Karena itu pada akhir 2025 jumlah user-nya melesat 66,1 persen (yoy) menjadi 3,7 juta, dibanding 2,2 juta pada 2024.

Lonjakan user itu, mendongkrak transaksi Bale 79,2 persen (yoy) menjadi 2,2 miliar per 31 Desember 2025, dari 1,2 miliar pada 2024, dengan nilai transaksi Rp103,6 triliun, meningkat 27,7 persen (yoy) dari Rp81,1 triliun pada 2024.

Saldo user Bale by BTN juga terus menanjak, dengan kontribusi Rp22,8 triliun terhadap DPK BTN hingga akhir 2025. Naik 15,3 persen (yoy) dari periode yang sama 2024 senilai Rp19,7 triliun. Nominal saldo rata-rata pengguna Bale pun makin tinggi, mendorong pertumbuhan DPK BTN terutama transaksi dana murah.

Kinerja Bale itu makin melempangkan jalan BTN menjadi consumer banking, bukan sekedar bank penyalur kredit perumahan, atau beyond mortgage bank.

Tapi, transformasi digital mengandung paradoksnya sendiri. Di satu sisi memudahkan dan mengefisienkan transaksi, juga memperluas inklusi keuangan masyarakat termasuk yang terkait perumahan, di sisi lain lebih banyak mendorong orang mengkonsumsi selain memicu banyak kasus penipuan keuangan (scam).

Padahal, menyangkut pemilikan rumah, orang harus menabung. Tidak bisa tidak. Tanpa menabung rutin sejak dini, punya rumah sendiri tinggal mimpi. Alasannya jelas. Untuk bisa membeli rumah secara kredit, orang harus menyiapkan uang mukanya.

Kendala uang muka
Pengalaman perbankan menunjukkan, bagi kebanyakan orang, uang muka adalah salah satu kendala utama pemilikan rumah. Rata-rata perbankan mematok persyaratan uang muka 20 persen dari harga rumah.

Untuk harga rumah Rp300 juta saja, uang muka yang harus disiapkan Rp60 juta. Ditambah biaya pemrosesan KPR dan lain-lain, total menjadi sekitar Rp70-an juta.

Bagi umumnya kaum muda, pasar terbesar industri perumahan, menyediakan uang sebesar itu sungguh berat. Kalaupun mampu, mereka sulit melaksanakannya karena tarikan gaya hidup. Setiap hari mereka digoda aneka penawaran di gadget masing-masing, yang menyulitkan mereka menabung dan berinvestasi.

Berbagai survei memang mengungkapkan, kalau anak-anak muda ditanya apa prioritas utama mereka dalam hidup. Jawaban pertamanya pasti punya rumah. Tapi, kebanyakan mereka belum siap mewujudkan mimpi itu dengan berbagai alasan, yang pada intinya tidak mampu menabung.

Mereka tidak pandai membedakan keinginan dengan kebutuhan. Life style seperti keinginan memiliki gadget atau kendaraan baru, hangout dan traveling, dan sejenisnya, sering lebih didahulukan.

Jangan heran, pertumbuhan kepemilikan ponsel dan kendaraan bermotor, selalu jauh melampaui pertumbuhan penyaluran KPR/KPA. Kepemilikan ponsel mencapai 300 jutaan unit, melebihi jumlah penduduk. Penjualan mobil mencapai sejuta lebih per tahun, sepeda motor 6–7 juta unit.

Bandingkan dengan penjualan rumah yang berputar-putar di 300-400 ribuan unit per tahun. Itulah kenapa rasio penyaluran KPR/KPA terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, tidak beranjak dari 3 persen atau kurang dibanding negara lain yang sudah puluhan sampai ratusan persen.

Ini bukan cerita baru. Tapi, mungkin perlu menjadi perhatian BTN yang fokus bisnisnya sektor perumahan. Perubahan nama menjadi Bank Tabungan Negara tahun 1963 dan penunjukan sebagai bank pembiayaan perumahan tahun 1974, adalah keputusan yang tepat. Untuk bisa memiliki rumah, orang harus menabung. Dan, BTN adalah tempat yang tepat untuk memupuk tabungan rumah tersebut.

Memang, seperti bank-bank lain, BTN sudah memiliki banyak produk tabungan. Mulai dari Tabungan Batara, Tabungan Bisnis, Tabungan Investa, Tabungan Simpel (Pelajar), sampai Tabungan Perumahan dan Tabungan Felas (valuta asing).

Yang diperlukan adalah mengkampanyekan lebih gencar produk-produk tabungan itu, terutama Tabungan Perumahan dan tabungan yang terkait dengan investasi, sehingga orang lebih terdorong menabung, bukan hanya mengkonsumsi. Kampanye disertai dengan penawaran yang menarik.

Saat melansir produk Tabungan BTN Perumahan 10 tahun lalu, BTN menetapkan syarat setoran awal sekian juta dan setoran selanjutnya minimal sekian ratus ribu per bulan. Tabungan hanya bisa ditarik secara manual dan dibatasi nilainya.

Sebagai imbalannya, nasabah menerima bunga tabungan yang lebih tinggi dan kemudahan mendapatkan KPR BTN. Benfit ini bisa ditambah. Misalnya, bunga KPR-nya lebih rendah, biaya pemrosesan KPR lebih murah, persyaratan uang muka lebih kecil, dan tenor kredit lebih lama.

Selain itu, karena sudah bekerja sama dengan ratusan developer, BTN juga bisa menawarkan pilihan rumah layak huni yang lebih beragam baik tipe, desain, harga, maupun lokasinya.

Memang, kampanye menabung ini bukan pekerjaan ringan dan mungkin harus dilakoni sepanjang hayat BTN. Bank-bank lain yang menawarkan produk serupa juga mengalaminya, seperti HSBC, Bank Hana, Bank Permata, dan Bank Arta Graha.

Setelah melansir produk tabungan rumah dengan aneka kelebihannya, seperti bisa mendapat KPR/KPA hingga 100-250 kali nilai tabungan bulanan, dan benefit lain yang memungkinkan nasabah tetap bisa memenuhi gaya hidupnya, produk itu seperti tak terdengar lagi di pasar. Atau tetap ada, tapi kurang dikampanyekan sehingga publik juga kurang mengetahuinya.

Personal trainer
Akhirnya, punya rumah sendiri itu wajib supaya hidup lebih fleksibel, punya investasi dalam aset tetap, dan tidak merana di usia tua. Dan, rumah adalah pengeluaran pribadi terbesar seseorang selama hidupnya. Sebab itu untuk mendapatkannya diperlukan upaya ekstra.

Mengutip Dolf de Roos, pakar real estate dari Amerika Serikat (AS), untuk mendapatkan rumah yang cocok, orang harus melihat 100 rumah, memlih 10 di antaranya, mengerucutkannya jadi tiga, sebelum memutuskan membeli salah satu.

Karena merupakan pengeluaran terbesar dan perlu usaha ekstra mendapatkannya, membeli rumah harus direncanakan dengan seksama termasuk pendanaannya dengan menabung, baik untuk uang muka maupun cicilan kreditnya.

Gaya hidup sering menjadi kendala orang menabung. Terlebih di masa kini yang segala sesuatu serba mudah diakses melalui gawai di tangan. Orang selalu digoda untuk mengkonsumsi, dan bukan disiplin menabung.

Padahal, harga rumah di perkotaan selalu meningkat lebih tinggi dibanding kecepatan kenaikan pendapatan konsumen. Kalau tidak disiplin menabung sejak dini, orang akan makin sulit punya rumah sendiri.

Nah, produk tabungan rumah yang ditawarkan bank seperti BTN bisa menjadi solusi. Dengan produk ini, sekian persen dari penghasilan tiap bulan langsung didebit ke tabungan, sehingga DP rumah cepat terkumpul dan cicilan kreditnya kelak selalu aman.

Dengan produk tabungan rumah, bank menjadi semacam personal trainer yang mendisiplinkan orang menabung. Inilah yang juga perlu digeber kampanyenya oleh BTN bersamaan dengan transformasi digital, sehingga meningkatkan juga literasi keuangan selain inklusi keuangan.

Berita Terkait

Ekonomi

Februari Industri Manufaktur Tetap Semangat Berekspansi

Ekonomi adalah lokomotif bisnis properti. Ekonomi moncer, bisnis properti...

Berita Terkini