Jelang Lebaran Ekspansi Manufaktur RI Catat Rekor Tertinggi Dalam 2 Tahun Terakhir
Hasil survei Purchasing Managers’ Index (PMI) versi S&P Global yamng dirilis, Senin (2/3/2026) menungkapkan, PMI Manufaktur Indonesia berada di zona ekspansif (indeks >50) sebesar 53,8 pada Februari 2026. Indeks ini merupakan yang tertinggi sejak Maret 2024 atau hampir selama dua tahun terakhir.
PMI Februari 2026 itu meningkat dari 52,6 pada Januari 2026, sehingga selama 7 bulan berturut-turut sejak Agustus 2025, manufaktur Indonesia mencatat ekspansi.
PMI Manufaktur versi S&P Global pada Februari 2026, selaras dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 yang dirilis Kementerian Perindustrian, yang juga mencatat ekspansi yang cukup tinggi pada manufaktur RI.
Menurut laporan S&P Global, peningkatan PMI itu dipicu kenaikan permintaan baru secara signifikan, yang mendorong pertumbuhan produksi. Pembelian barang input untuk berproduksi dan penggunaan tenaga kerja baru juga meningkat. Sementara tekanan biaya pada barang input (bahan untuk berproduksi) sedikit menurun.
“Kenaikan pembelian input pada Februari merupakan yang tertinggi sejak Maret 2024,” tulis S&P. Produsen manufaktur RI melaporkan penurunan inflasi harga input, dengan beban biaya rata-rata naik pada tingkat rendah dalam enam bulan, dengan laju lebih rendah dibanding rata-rata jangka panjang, sehingga perusahaan hanya menaikkan biaya pada tingkat sedang untuk menjaga produk tetap kompetitif.
Baca juga: Februari Industri Manufaktur Tetap Semangat Berekspansi
Permintaan baru tersebut naik selama tujuh bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan paling kuat sejak November 2025.
“Pertumbuhan total permintaan baru terjadi secara luas, seiring produsen manufaktur Indonesia mencatat kembali peningkatan pesanan ekspor baru untuk pertama kali dalam enam bulan, yang merupakan kenaikan permintaan ekspor paling tajam sejak Mei 2022,” tulis laporan tersebut.
Peningkatan pesanan baru atau penjualan, juga mendorong perusahaan menaikkan perekrutan tenaga kerja enam kali dalam tujuh bulan pada tingkat tertinggi sejak November 2025. Kenaikan jumlah karyawan itu membantu manufaktur Indonesia meningkatkan produksi pada Februari 2025.
Output mengalami ekspansi pada laju tercepat sejak April 2024, dan perusahaan mencatat produksi tambahan untuk membangun stok sebagai persiapan menghadapi kenaikan permintaan mendatang, sehingga inventaris pasca produksi juga naik selama empat bulan berjalan.
Tingkat optimisme manufaktur RI terhadap prospek 12 bulan mendatang turun dibandingkan Januari, dan di bawah rata-rata jangka panjang. Namun, data terbaru Indeks Output Masa Depan masih menunjukkan optimisme yang solid untuk tahun mendatang, didukung harapan kondisi permintaan yang lebih kuat dan harga lebih stabil.
Baca juga: Awal Tahun PMI Manufaktur Ngegas, Pesanan Baru dan Produksi Meningkat, Pengusaha Lebih Pede
Menurut Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, kondisi manufaktur Indonesia kembali menguat pada pertengahan triwulan pertama, memberikan prospek positif pada bulan-bulan mendatang.
“Kondisi permintaan menunjukkan tren positif, dengan penjualan yang meningkat cukup kuat sehingga mendorong kenaikan produksi, ketenagakerjaan, dan aktivitas pembelian. Terlebih, kenaikan permintaan tidak terbatas pada klien domestik, tapi juga ekspor yang naik pertama kali dalam enam bulan,” kata Usamah.