Sabtu, April 4, 2026
HomeNewsEkonomiKabar Baik Awal Tahun, Impor Barang Modal dan Bahan Baku/Penolong Meningkat Tinggi

Kabar Baik Awal Tahun, Impor Barang Modal dan Bahan Baku/Penolong Meningkat Tinggi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Senin (2/3/2026), impor RI pada Januari 2026 mencapai USD21,201 miliar, meningkat USD3,265 miliar (18,21 persen) secara tahunan (yoy) dibanding Januari 2025. Peningkatan disebabkan terutama oleh naiknya impor migas sebesar USD683,3 juta (27,52 persen), dan nonmigas USD2,582 miliar (16,71 persen).

Peningkatan impor migas disebabkan oleh bertambahnya impor minyak mentah USD652,7 juta (118,45 persen) dan hasil minyak USD30,6 juta (1,58 persen). Sementara impor nonmigas disumbang 10 golongan barang utama dengan peranan 60,10 persen atau senilai USD10,839 miliar. Impor nonmigas itu meningkat USD2,084 miliar atau 23,81 persen dibandingkan Januari 2025.

Golongan mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya, mengalami peningkatan impor tertinggi senilai USD666,3 juta (29,54 persen). Diikuti logam mulia dan perhiasan/permata USD451,3 juta (152,50 persen), kendaraan udara dan bagiannya USD448,2 juta (1.288,48 persen), mesin/peralatan mekanis dan bagiannya USD312,6 juta (12,09 persen), berbagai produk kimia USD148,4 juta (38,69 persen), serealia USD99,0 juta (37,53 persen), kendaraan dan bagiannya USD57,3 juta (7,48 persen), serta plastik dan barang dari plastik USD53,1 juta (5,92 persen).

Sementara nilai impor dua golongan barang nonmigas utama lainnya mengalami penurunan. Yaitu, besi dan baja USD100,9 juta (14,11 persen) dan bahan kimia organik USD50,8 juta (9,12 persen).

Seluruh golongan penggunaan barang mengalami peningkatan impor dibanding Januari 2025. Peningkatan tertinggi pada golongan bahan baku/penolong senilai USD1,902 miliar juta (14,67 persen). Diikuti barang modal USD1,168 miliar (35,23 persen) dan barang konsumsi USD194,2 juta (11,81 persen).

Golongan bahan baku/penolong memberikan kontribusi sebesar 70,17 persen (USD14,876 miliar) terhadap total impor. Diikuti barang modal 21,16 persen (USD4,485 miliar) dan barang konsumsi 8,67 persen (USD1,838 miliar).

Baca juga: Januari Impor Naik 18 Persen, Impor Logam Mulia dan Perhiasan dari Australia Meroket 634 Persen!

Dengan kata lain, kendati impor barang konsumsi seperti logam mulia dan perhiasan dari Australia melesat 600-an persen, impor barang modal dan bahan baku/penolong juga meningkat tinggi, dengan share tetap sama terhadap total impor nonmigas (lebih dari 81 persen) dibanding Januari 2025.

Ini merupakan kabar baik, karena menunjukkan bergairahnya industri RI pada awal tahun. Selaras dengan hasil survei PMI Manufaktur RI versi S&P Global dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) versi Kemenperin yang mengungkapkan, pada awal tahun industri pengolahan atau manufaktur RI bersemangat melakukan ekspansi.

Industri pengolahan adalah penyumbang terbesar ekspor Indonesia, mencapai sekitar 80 persen dari total ekspor. Juga kontributor utama pertumbuhan ekonomi dengan share hampir 20 persen.

Kontribusi impor nonmigas tertinggi pada januari 2026 masih berasal dari Tiongkok (43,75 persen/USD7,890 miliar), diikuti Australia (5,92 persen/USD1,067 miliar), dan Jepang 5,25 persen (USD946,0 juta). Kemudian ASEAN (12,86 persen/USD2,318 miliar) dan Uni Eropa 7,79 persen (USD1,405 miliar).

Total nilai impor nonmigas RI dari 13 negara pada Januari 2026 mencapai USD14,218 miliar, naik USD1,793 miliar (14,44 persen) dibanding Januari 2025. Terutama dipengaruhi naiknya nilai impor dari beberapa negara asal utama seperti Tiongkok USD1,547 miliar (24,39 persen), Australia USD595,1 juta (125,92 persen), dan Singapura USD60,1 juta (10,95 persen).

Berita Terkait

Ekonomi

Meningkat Pesimisme Pelaku Industri Terhadap Prospek Usahanya

Penurunan ekspansi manufaktur Indonesia pada Maret 2026, baik karena...

Bank Mandiri Telah Salurkan KUR Senilai Lebih Rp310 Triliun

Bank Mandiri terus mempertegas komitmennya sebagai mitra strategis pemerintah...

Berita Terkini