Stok Melimpah, Daya Beli Masih Lemah, Harga Rumah Besar Terkoreksi, Rumah Kecil dan Menengah Tak Bergerak
Daya beli masyarakat yang belum cukup kuat dan melimpahnya stok rumah yang dijajakan di pasar, membuat harga rumah seken tidak bergerak alias flat. Hal itu terungkap dari Property Home Sell Index (PHSI) 2025 versi marketplace property Pinhome yang dirilis pekan lalu.
Menurut laporan Pinhome, Indeks Harga Jual Rumah Nasional pada triwulan empat 2025 mencatat pertumbuhan yang relatif flat sebesar 0,4 persen baik secara triwulanan (qtq) maupun tahunan (yoy).
Hal itu menunjukkan pasar perumahan relatif stabil, dengan tren kenaikan harga terbatas dan selektif. Perkembangan harga dipengaruhi perubahan daya beli konsumen, serta peningkatan inventori rumah di sejumlah kota, sehingga setiap segmen rumah bergerak sesuai kondisi permintaan dan penawaran lokal.
Berdasarkan ukuran bangunan, harga rumah secara triwulanan bergerak datar di seluruh tipe. Mencerminkan pasar yang bergerak selektif, di tengah upaya penyesuaian daya beli dan penambahan inventori di beberapa wilayah.
Secara tahunan, harga rumah kecil hanya tumbuh 0,8 persen, rumah tipe 55–120 naik 0,5 persen, dan tipe 121–200 sebesar 0,3 persen.
Baca juga: Stok Rumah Seken Melonjak, Banyak yang BU dan Mau Jual Cepat
Sebaliknya, rumah tipe ≥201 mengalami koreksi marjinal sebesar –0,9 persen. Penurunan harga ini berkaitan dengan preferensi sebagian konsumen yang menunda pembelian, atau beralih ke opsi sewa di kota inti, peningkatan inventori di wilayah komuter, serta faktor eksternal seperti bencana di beberapa kawasan.
“Tekanan pada segmen besar menunjukkan pasar menyesuaikan diri secara selektif, tanpa mengindikasikan tekanan menyeluruh,” tulis laporan Pinhome.
Tahun ini Pinhome memperkirakan, pasar properti nasional berpotensi bergerak ke fase yang lebih ekspansif, setelah melalui periode konsolidasi sepanjang 2025. Akselerasi ini ditopang oleh beberapa faktor utama.
Yaitu, fundamental makro ekonomi yang lebih kuat, belanja negara yang lebih ekspansif, serta defisit fiskal yang tetap terjaga rendah yang memberikan kepastian stabilitas makro.
Kemudian adanya ruang pelonggaran pembiayaan, dengan pertumbuhan kredit yang solid di akhir 2025, dan potensi penurunan suku bunga domestik.
Baca juga: Daya Beli Lemah, Rata-Rata Nilai Plafon KPR Selama 2025 Melorot
Terakhir adanya kepastian insentif perumahan, berupa perpanjangan PPN DTP 100 persen selama 2026-2027, dan peningkatan kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk pemilikan rumah subsidi, yang berpotensi mengaktivasi kembali transaksi yang tertunda, khususnya di segmen rumah kecil dan menengah.
“Dengan kombinasi stabilitas kebijakan dan dukungan fiskal yang terjaga, 2026 diperkirakan menjadi periode normalisasi menuju pertumbuhan transaksi yang lebih sehat, dengan segmen terjangkau dan menengah tetap menjadi penggerak utama pasar,” terang laporan Pinhome.
Prediksi Pinhome ini akan diuji oleh pasar, menyusul pecahnya konflik antara AS-Israel dan Iran, yang memicu kenaikan harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah mendekati Rp17.000, yang selanjutnya akan mempengaruhi kinerja dunia bisnis termasuk bisnis properti.