Respon Pesimisme Pengamat, Pemerintah Kembali Tegaskan Ekonomi RI Tetap Kuat
Pemerintah terus mencermati perkembangan dinamika global, yang ditandai dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dan volatilitas pasar keuangan dunia.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, pemerintah memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan resilien, didukung koordinasi kebijakan yang solid serta daya tahan ekonomi domestik yang terjaga.
Sebelumnya hasil survei LPEM FEB UI mengungkapkan pesimisme para ekonom mengenai ekonomi Indonesia. Mereka menilai ekonomi Indonesia triwulan satu 2026 akan lebih rendah dibanding triwulan IV 2025 yang tumbuh 5,39 persen, alih-alih mencapai target pertumbuhan 5,5 – 5,7 persen seperti diutarakan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Sementara Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menyatakan, masyarakat selama ini diterlena oleh narasi ekonomi Indonesia kuat, cadangan devisa besar, dan struktur utang aman karena didominasi tenor jangka panjang.
Padahal, semua itu tidak banyak berarti ketika kondisi eksternal memburuk, karena cadangan devisa didapat dari akumulasi utang luar negeri, dan nilai tukar rupiah tergantung aliran masuk modal asing portofolio.
Karena itu kendati cadangan devisa besar, ketika terjadi gejolak eksternal seperti konflik AS/Israel dengan Iran seperti saat ini, rupiah selalu terpuruk dan cadangan devisa terkuras untuk menstabilkannya, yang selanjutnya menggoyang stabilitas ekonomi.
“Bahkan, jika kondisi eksternal itu terus memburuk, rupiah berpotensi melemah hingga mendekati Rp20.000 per dolar AS dalam waktu relatif singkat,” kata Anthony seperti dikutip Kompas.com.
“Jadi, pernyataan pemerintah bahwa ekonomi kita kuat tidak sepenuhnya sesuai fakta. Fundamental ekonomi baik fiskal, moneter, dan nilai tukar sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh,” lanjutnya. Rupiah sendiri saat ini sudah menyentuk level Rp17.000 per USD, menyamai nilai tukarnya saat krisis moneter 1998.
Baca juga: Purbaya Optimistis Triwulan I Ekonomi Tumbuh 5,7 Persen, Para Ekonom Tidak
Menurut Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto, pemerintah menghormati berbagai pandangan dari masyarakat sebagai bagian dari masukan dalam perumusan kebijakan.
“Tapi, perlu kami sampaikan, pemerintah memastikan fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat dan resilien, dan mampu menghadapi tekanan (dinamika) global,” kata Haryo melalui keterangan, Kamis (26/3/2026).
Ia mengulangi lagi, stabilitas makroekonomi Indonesia tetap terjaga dengan baik. Pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 5,11 persen (yoy), relatif tinggi dibanding negara peers (setara), dan inflasi tetap terjaga di kisaran sasaran 2,5±1%.
“Pemerintah terus menjaga stabilitas tersebut melalui pengendalian inflasi dan kebijakan stabilisasi harga,” ujar Juru Bicara Haryo.
Dari sisi permintaan domestik dan sektor riil, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, didukung berbagai stimulus fiskal dan program bantuan sosial.
Aktivitas manufaktur juga menunjukkan kinerja yang kuat, dengan PMI sebesar 53,8 yang berada pada fase ekspansi dan menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Ketahanan fiskal juga tetap terjaga dengan kinerja APBN yang solid. Hingga Februari 2026, penerimaan pajak tumbuh 30,4 persen (yoy), didukung reformasi perpajakan dan implementasi digitalisasi melalui sistem Coretax yang terus memperkuat basis penerimaan negara serta meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
Baca juga: Merosot Optimisme Masyarakat Terhadap Prospek Ekonomi dan Ketersediaan Lapangan Kerja
Selain itu, ketahanan pangan dan energi nasional makin menguat. Indonesia telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan utama, serta mencatat surplus produksi energi melalui program biodiesel. Kondisi ini menjadi bantalan penting dalam menghadapi gejolak global, termasuk dampak dari konflik geopolitik di Timur Tengah.
Pemerintah juga terus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, penguatan investasi, serta akselerasi digitalisasi. Pengembangan sektor kendaraan listrik dan energi baru terbarukan, menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Pemerintah tetap optimistis perekonomian Indonesia dapat tumbuh sekitar 5,4 persen tahun ini, dengan stabilitas yang terjaga serta reformasi struktural yang terus berjalan.
Pemerintah juga akan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika global, sekaligus memastikan daya tahan ekonomi nasional tetap kuat.