Sabtu, Maret 28, 2026
HomeNewsEkonomiPenyaluran Kredit Menurun, Jumlah Uang Beredar Februari Tumbuh Lebih Rendah

Penyaluran Kredit Menurun, Jumlah Uang Beredar Februari Tumbuh Lebih Rendah

Uang beredar adalah indikator aktivitas ekonomi. Kenaikan atau penurunan uang beredar, mengindikasikan bertambah atau berkurangnya likuiditas perekonomian atau jumlah uang untuk bertransaksi. Artinya, uang beredar adalah salah satu indikator lesu atau bergairahnya ekonomi. Kenaikan jumlah uang beredar menunjukkan, likuiditas makin longgar dan transaksi ekonomi meningkat.

Pada februari 2026, Bank Indonesia melaporkan, Jumat (27/3/2026), jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 8,7 persen (yoy) menjadi Rp10.089,9 triliun, lebih rendah dibanding Januari 2026 yang tumbuh 10 persen (yoy) dan Desember 2025 sebesar 9,6 persen.

M2 terdiri dari uang kartal (tunai), uang giral (giro), uang kuasi (tabungan dan deposito berjangka), serta surat berharga selain saham.

Perkembangan M2 dipengaruhi pertumbuhan uang beredar sempit (M1= 58,3 persen dari M2) sebesar 14,4 persen (yoy), turun dibanding Januari 2026 sebesar 14,9 persen (yoy), menjadi Rp5.887 triliun, dan uang kuasi (41,2 persen dari M2) 3,1 persen (yoy), merosot dari Januari 2026 yang tumbuh 5,3 persen (yoy), menjadi Rp4.154,7 triliun.

M1 adalah uang tunai (kertas dan logam) di tangan masyarakat, giro rupiah, dan tabungan rupiah yang bisa ditarik sewaktu-eaktu. Sedangkan uang kuasi adalah deposito (rupiah dan valas), tabungan rupiah dan valas, serta giro valas.

Perkembangan M1 dipengaruhi penurunan giro rupiah dan tabungan rupiah yang bisa ditarik sewaktu-waktu. Sedangkan uang tunai di tangan masyarakat meningkat. Sementara penurunan uang kuasi dipengaruhi perlambatan pertumbuhan deposito dan tabungan lainnya, serta kontraksi (minus) pertumbuhan giro valas.

Baca juga: Jumlah Uang Beredar dan Transaksi Digital Tumbuh Tinggi

Menurut BI, pertumbuhan jumlah uang beredar pada Februari 2026 terutama dipengaruhi oleh ekspansi belanja pemerintah dan penyaluran kredit.

Belanja pemerintah yang nge-gas tercermin dari tagihan bersih BI kepada pemerintah pusat yang tumbuh 25,6 persen (yoy), dibanding Januari 2026 sebesar 22,6 persen. BI adalah tempat pemerintah menyimpan dananya.

Sedangkan penyaluran kredit tumbuh 8,9 persen (yoy) menjadi Rp8.420,5 triliun, lebih rendah dibanding Januari 2026 yang tumbuh 10,2 persen (yoy). Begitu pula aktiva luar negeri bersih, komponen lain yang memengaruhi uang beredar, hanya tumbuh 2 persen (yoy) pada Februari 2026 dibanding 5,5 persen (yoy) pada Januari 2026.

Kredit di sini ha​​nya dalam bentuk pinjaman (loans), tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman seperti surat berharga, tagihan akseptasi, dan tagihan repo. Kredit di sini juga tidak termasuk kredit yang diberikan kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.

Berita Terkait

Ekonomi

Respon Pesimisme Pengamat, Pemerintah Kembali Tegaskan Ekonomi RI Tetap Kuat

Pemerintah terus mencermati perkembangan dinamika global, yang ditandai dengan...

Redam Kenaikan Yield SBN, Menkeu Suntik Lagi Likuiditas Rp100 Triliun ke Bank BUMN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambah penempatan dana pemerintah...

Purbaya Optimistis Triwulan I Ekonomi Tumbuh 5,7 Persen, Para Ekonom Tidak

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ekonomi Indonesia bisa...

Februari Penyaluran Kredit Menurun Lebih Dalam

Pada bulan pertama 2026 industri perbankan mencatat kinerja yang...

Berita Terkini