Jumlah Pemudik 2026 Turun, Tapi Penumpang Angkutan Umum Naik, Masyarakat Berhemat
Jumlah pemudik Lebaran terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Lebaran tahun ini jumlah pemudik mencapai 147,55 juta orang.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi saat penutupan Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2026 di Jakarta, Senin (30/3/2026), menyatakan, realisasi jumlah pemudik itu lebih tinggi 2,35 persen dibanding hasil survei prediksi arus mudik Lebaran 2026 sebesar 143,92 juta orang.
Namun, jumlah pemudik Lebaran 2026 selama 17 hari (sejak 13 – 29 Maret 2026) itu, tetap jauh lebih sedikit dibanding realisasi jumlah pemudik Lebaran 2025 dan 2024 sebesar masing-masing 154 juta orang dan 193 juta orang.
Perlu dicatat, sekitar 85 persen pemudik menggunakan angkutan pribadi (mobil dan sepeda motor) untuk mudik. Hanya 14-15 persen yang menggunakan angkutan atau transportasi umum (transum).
Tahun ini jumlah pemudik yang menggunakan transum mencapai 23,54 juta orang, meningkat 10,87 persen dibandingkan tahun lalu.
“Seluruh moda transportasi umum mengalami peningkatan penggunaan selama mudik Lebaran 2026,” kata Menhub Dudy.
Penggunaan angkutan jalan naik 11,64 persen, angkutan laut meningkat 9,86 persen, angkutan udara naik 6,97 persen, penumpang kereta api tumbuh 10,13 persen, dan penumpang moda penyeberangan meningkat 15,36 persen.
Dudy mengaku belum tahu kenapa jumlah pemudik 2026 menurun, dan sebaliknya pemudik yang menggunakan angkutan umum meningkat.
“Tentu ada beberapa pertimbangan masyarakat dalam melakukan perjalanan mudik. Itu akan kami elaborasi lagi, kenapa jumlah pemudik tahun ini menurun dibanding tahun kemarin,” ujarnya.
Baca juga: Jumlah Pemudik Lebaran Terus Menurun, Tahun Ini 147,55 Juta Orang
Sementara para pengamat menilai, pelemahan daya beli menjadi penyebab turunnya jumlah pemudik beberapa tahun terakhir. Pasca pandemi yang berlangsung selama hampir tiga tahun, belum terjadi pemulihan daya beli tersebut.
Ditambah ketidakpastian ekonomi yang meningkat pasca pandemi, mendorong banyak orang berhemat, menahan pengeluaran dan memperbanyak tabungan untuk berjaga-jaga.
Mereka mendapat THR dan tetap mudik, tapi sebagian beralih menggunakan angkutan umum yang lebih rendah biayanya, dari sebelumnya dengan kendaraan pribadi.
Data Mandiri Saving Index (MSI), Laporan Economic Update-Askelerasi Belanja Pasca Pencairan THR, yang dirilis pekan ketiga ketiga Ramadan 2026 mengungkapkan, Ramadan tahun ini tabungan masyarakat tetap tumbuh kendati lebih rendah dibandingkan periode yang sama 2025.
Yang menurun hanya tabungan kaum atas dari level 94,3 menjadi 89,7. Mencerminkan peningkatan konsumsi pada kelompok ini lebih besar dibanding tambahan pendapatan yang mereka terima.
Sementara kaum bawah meningkat tabungannya ke level 73,6 pada Februari 2026 dari tahun lalu 72,8 . Begitu pula kaum menengah, mencatat kenaikan tabungan ke level 102,1 dari tahun lalu 100,4.
Kenaikan ini mencerminkan adanya tambahan pemasukan, terutama dari pencairan THR, kendati peningkatan tabungan dua kelompok tersebut lebih rendah dibanding Ramadan 2025.
Seperti biasa, setiap Ramadan konsumsi masyarakat meningkat. Namun, belanja leisure (liburan dan rekreasi) hanya tumbuh 3,1 persen, jauh lebih rendah dibanding 2025 sebesar 13,5 persen. Begitu juga belanja terkait mobilitas, hanya naik 5,2 persen dibanding 5,8 persen pada 2025.