Kamis, April 2, 2026
HomeNewsEkonomiPesanan dan Produksi Menurun, Stok Barang Meningkat, Kepercayaan Industri Melorot

Pesanan dan Produksi Menurun, Stok Barang Meningkat, Kepercayaan Industri Melorot

Setelah mencatat indeks yang tinggi selama dua bulan pertama tahun ini, pada Maret 2026 ekspansi industri pengolahan atau manufaktur RI merosot.

Tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Maret 2026 sebesar 51,86 (indeks >50 = ekspansif), merosot dibanding Februari dan Januari 2026 sebesar 54,02 dan 54,12. IKI Januari dan Februari merupakan yang tertinggi sejak Kemenperin merilis survei IKI pada November 2022.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief menyatakan, perlambatan IKI Maret 2026 dipengaruhi faktor musiman pasca Imlek, Ramadan dan Idul Fitri.

“Industri telah melalui puncak produksi pada Februari 2026, merespons lonjakan permintaan selama periode hari besar keagamaan nasional tersebut,” katanya saat rada rilis IKI Maret 2026 di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Pada Maret 2026, sebagian pelaku industri mulai melakukan penyesuaian produksi, karena terjadi penumpukan stok di gudang. Dipicu pembatasan aktivitas logistik selama 16 hari sebelum dan sesudah Lebaran, sehingga menghambat distribusi barang yang berdampak pada aktivitas produksi.

“Seiring normalisasi permintaan pasca Lebaran, pelaku industri menurunkan tingkat produksi untuk menyeimbangkan kembali antara supply dan demand,” jelas Febri.

Baca juga: Tekanan Global, Manufaktur Indonesia Masih Ekspansif Kendati Mengendur

Tekanan global
Faktor eksternal juga memengaruhi ekspansi manufaktur pada Maret 2026. Perang AS-Israel dengan Iran sejak awal Maret, menaikkan harga energi dan bahan baku, serta biaya logistik.

Namun saat ini, Febri menyebut dampak konflik tersebut terhadap manufaktur RI relatif masih terbatas pada pada subsektor tertentu, yang memiliki ketergantungan bahan baku dari kawasan Timur Tengah.

“Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, 16 subsektor masih berada pada fase ekspansi dengan kontribusi 78,3 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas,” ungkap Febri.

Subsektor dengan ekspansi tertinggi antara lain industri pencetakan dan reproduksi media rekaman (KBLI 18), serta industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer (KBLI 29).

Baca juga: Meningkat Pesimisme Pelaku Industri Terhadap Prospek Usahanya

Sementara 7 subsektor mengalami kontraksi, termasuk industri minuman, tembakau, bahan kimia, serta elektronik dan peralatan listrik.

“Kontraksi pada 7 subsektor itu dipengaruhi faktor musiman pasca Ramadan dan Idulfitri, pelemahan daya beli, serta gangguan pasokan bahan baku akibat kondisi global.

Pesanan menurun
Semua komponen pembentuk IKI masih berada pada zona ekspansi, dengan indeks 52,20 untuk pesanan baru, 51,55 produksi, dan 51,47 persediaan.

Kendati demikian, variabel pesanan dan produksi mengalami penurunan indeks 3,16 poin dan 2,80 poin dibanding Februari 2026, sedangkan indeks variabel persediaan atau stok barang di gudang meningkat 1,22 poin.

“Kinerja industri masih ekspansif namun dengan laju yang cenderung melambat,” ujar Jubir Kemenperin.

Baca juga: Januari Kepercayaan Industri Cetak Rekor Tertinggi, Produksi Melonjak

IKI berdasarkan orientasi pasar menunjukkan baik pasar ekspor maupun domestik sama-sama melambat. IKI ekspor tercatat 52,73, IKI domestik sebesar 50,44 atau menxdekati zona kontraksi (indeks <50).

“Perlambatan ini mencerminkan adanya tekanan baik dari permintaan global maupun domestik. Karena itu, penguatan pasar dalam negeri menjadi sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan industri nasional,” terang Febri.

Berita Terkait

Ekonomi

Meningkat Pesimisme Pelaku Industri Terhadap Prospek Usahanya

Penurunan ekspansi manufaktur Indonesia pada Maret 2026, baik karena...

Bank Mandiri Telah Salurkan KUR Senilai Lebih Rp310 Triliun

Bank Mandiri terus mempertegas komitmennya sebagai mitra strategis pemerintah...

Tekanan Global, Manufaktur Indonesia Masih Ekspansif Kendati Mengendur

S&P Global mencatat, industri pengolahan atau manufaktur Indonesia masih...

Neraca Perdagangan RI Surplus 70 Bulan Tanpa Putus

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Distribusi dan...

Berita Terkini