Sabtu, Oktober 24, 2026
HomeBahan BangunanBahan Bangunan Hijau itu Penting, karena Hidup Kita 80 Persen Dalam Bangunan

Bahan Bangunan Hijau itu Penting, karena Hidup Kita 80 Persen Dalam Bangunan

Sebuah bangunan dikatakan green atau ramah lingkungan juga tidak lepas dari bahan bangunan yang dipakainya. Chairman of Green Product Council Indonesia (GPCI) Hendrata Atmoko menyebutkan, ada tiga kriteria yang harus dipenuhi bahan bangunan agar bisa disertifikasi sebagai material hijau.

produkhijau-foto

Pertama, healthy atau memenuhi unsur kesehatan, tidak ada efek beracun (toksid). Kedua, sustainable, setelah dipakai bahan bangunannya bisa didaur ulang agar jangan menjadi sampah. Ketiga, carbon footprint atau jejak karbonnya menyangkut emisi gas buang yang dihasilkannya baik dalam proses produksi maupun distribusi minimal. Misalnya, untuk pengangkutan bahan baku dari tempat asal sampai ke pabrik untuk diolah. Makin jauh jaraknya, makin banyak jejak karbonnya yang berarti kurang ramah lingkungan.

“Kriteria ketiga carbon footprint itu yang spesifik untuk Indonesia, karena efisiensi energi dan air penting diterapkan selama proses produksi sehingga berkontribusi melestarikan sumber daya alam dan mengurangi emisi,” katanya dalam talk show peluncuran produk bahan bangunan hijau di Jakarta, Rabu (2/8).

Hendrata melalui GPCI yang digagas sejak 2015 dan didukung  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ingin mendorong seluruh masyarakat memperhatikan aspek lingkungan dalam pemakaian bahan bangunan. “Hampir 80 persen hidup kita berada dalam bangunan. Jadi, penting memperhatikan pemakaian materialnya,” ujar Hendrata.

Berita Terkait

Ekonomi

Luncurkan DNKK, Presiden Targetkan Penyaluran Kredit Rakyat Rp400 Triliun Tahun Depan

Pemerintah memperkuat orientasi inklusi keuangan, dengan tidak hanya memperluas...

Ekonomi Digital Jadi Andalan Capai Target Pertumbuhan 6 Persen. Menko Airlangga Jelaskan

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menempatkan ekonomi digital sebagai salah...

BI: Manufaktur Ekspansif, Tapi Serapan Tenaga Kerjanya Masih Minus

Serupa dengan S&P Global dan Kementerian Perindustrian, Bank Indonesia...

Berita Terkini