Yori Antar: Arsitektur Tradisional Kita Arsitektur Masa Depan
Majalah Asrinesia dan Vinoti Living yang bergerak di industri furnitur mengadakan acara kumpul bersama dengan para arsitek dan desainer interior membahas tema “Desain Kita Mau Dibawa Kemana”, akhir pekan lalu di Jakarta.
Acara yang dilaksanakan bertepatan dengan ulang tahun ke-23 Vinoti Living ini menghadirkan dua pembicara, Arsitek Yori Antar dan Desainer Interior Diana Nazir. Pertemuan dikuti peserta dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Menurut President Director dan owner Vinoti Living Halisya Pramana, pertemuan ini diadakan untuk mengenal lebih dekat lagi dengan kalangan arsitek, desainer interior, desainer produk, kontraktor, serta pengusaha di bidang desain interior.
“Semoga pertemuan ini bisa terjalin terus diantara kita terlebih saat ini kolaborasi menjadi sangat penting untuk bisa menghasilkan karya yang lebih besar,” ujarnya.
Sementara menurut Diana Nazir yang juga pendiri kantor konsultan interior PT Artuara Insanindo, selama dua tahun hidup di tengah-tengah pandemi Covid-19 telah membuat desain produk terpengaruh. Maka itu katanya lebih lanjut, situasi pandemi harus dijadikan momentum untuk mengamati perkembangan tren desain dunia.
“Kita harus melihat dan mempelajari sejauh mana perkembangan desain dan proyek mana yang diterima masyarakat,” katanya.
Diana juga menyebut tentang kekayaan khazanah desain Indonesia khususnya produk lokal yang sarat akan budaya tradisional. Karya orisinal seperti ini harus terus dikedepankan. Apalagi budaya kita yang mencerminkan karakter keindonesiaan yang kuat telah diterima dan diapresiasi dunia internasional.
Arsitek Yori Antar juga mengatakan bahwa kita harus fokus melestarikan warisan arsitektur lokal dan mendokumentasikannya, disamping harus membangun kembali arsitektur nusantara khususnya rumah-rumah adat yang kekayaan desainnya terancam punah.
“Kita punya Desa Wae Rebo di Flores, desa adat Batak, Minang, Papua, Sumba, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya yang semuanya kaya akan warisan arsitektur lokal. Kekuatan desain ini bisa diadaptasikan untuk perlindungan kesehatan penghuni dan aktivitasnya di saat pandemi,” bebernya.
Yori Antar yang memiliki julukan Pendekar Arsitektur Nusantara ini juga menjelaskan, arsitek harus bisa memberi perhatian pada setiap desain hunian baru di era pandemi dengan tetap menjaga misi kelestarian dan keberlanjutan. Ia juga terus memperjuangkan supaya pembelajaran arsitektur lokal bisa masuk ke kurikulum pendidikan arsitektur di perguruan tinggi.
“Arsitektur tradisional kita itu sebenarnya arsitektur masa depan. Masalahnya bagaimana tradisi itu bisa kita selamatkan, kita lestarikan, dan kita bawa ke masa kini hingga masa depan. Kalau kita berhasil membawa tradisi ini ke masa depan, maka kita akan bisa menjadi trend setter yang akan diikuti pihak lain,” pungkasnya. Sumber foto : Asrinesia