Tak Ada Lagi Diskon Tarif Listrik, Inflasi Maret Pun Melejit
Bank Indonesia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipublikasikan, Selasa (8/4/2025), menyatakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) Maret 2025 mengalami inflasi sebesar 1,65 persen secara bulanan (mtm), dibanding deflasi 0,48 persen pada Februari 2025.
Dengan demikian secara tahunan (yoy) IHK Maret mengalami inflasi sebesar 1,03 persen, dibanding deflasi 0,09 persen (yoy) pada Februari 2025.
“Bank Indonesia konsisten mempererat sinergi pengendalian inflasi dengan pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Ke depan Bank Indonesia meyakini inflasi tahun ini akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen,” tulis BI melalui Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso, Selasa (8/4/2025).
BI juga mencatat, inflasi inti juga tetap terjaga rendah. Inflasi inti adalah inflasi yang tidak memasukkan harga bahan pangan bergejolak (volatile food), dan harga barang yang dikendalikan pemerintah (administered price) seperti BBM dan listrik.
Pada Maret 2025 inflasi inti tercatat 0,24 persen (mtm), relatif stabil dari Februari 2025 sebesar 0,25 persen (mtm).
Perkembangan inflasi inti itu terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga beberapa komoditas global terutama emas, dan kenaikan permintaan selama Ramadan dan jelang Idul Fitri. Secara tahunan (yoy), inflasi inti Maret 2025 juga tercatat stabil 2,48 persen (yoy), dibandingkan Februari 2025 yang juga sebesar 2,48 persen (yoy).
baca juga: Ada Diskon Tarif Listrik, Februari 2025 Indonesia Deflasi Lagi
Kelompok volatile food mengalami inflasi pada Maret 2025 sebesar 1,96% (mtm), jauh lebih tinggi dibanding Februari 2025 yang mengalami deflasi 0,93 persen (mtm).
Inflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas bawang merah, cabai rawit, dan daging ayam ras, dipengaruhi keterbatasan produksi akibat gangguan cuaca dan peningkatan permintaan selama Ramadan dan jelang Idul Fitri.
Sedangkan secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi 0,37 persen (yoy), menurun dibanding Februari 2025 0,56 persen (yoy). BI tidak menyebut penyebabnya, tapi kemungkinan besar karena makin melemahnya daya beli tahun ini dibanding tahun sebelumnya.
Sementara kelompok administered prices mengalami inflasi tajam pada Maret 2025 sebesar 6,53 persen (mtm), dibanding 2,65 persen pada februari 2025.
Peningkatan tajam inflasi kelompok administered prices itu terutama disumbang oleh komoditas tarif listrik, seiring berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen kepada pelanggan rumah tangga dengan daya terpasang hingga 2.200 VA.
Inflasi administered prices yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada komoditas angkutan udara, seiring implementasi diskon harga tiket penerbangan berjadwal domestik kelas ekonomi selama Idulfitri.
“Secara tahunan kelompok administered prices mencatat deflasi sebesar 3,16 persen (yoy) pada Maret 2025, tidak sedalam deflasi bulan sebelumnya sebesar 9,02 persen (yoy),” tutup Ramdan.