Pemerintah terus memperkuat kebijakan perekonomian nasional untuk menjaga stabilitas, sekaligus meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

Berbagai tekanan eksternal, mulai dari fragmentasi perdagangan hingga perlambatan ekonomi dunia, menuntut kebijakan yang adaptif, konsisten, dan berorientasi jangka menengah–panjang agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

“Saya rasa di tengah ketidakpastian global yang berasal dari perlambatan ekonomi dan peningkatan tensi geopolitik, ekonomi Indonesia tetap resilien (tangguh) dengan risiko resesi relatif rendah, berdasarkan Bloomberg, dibandingkan AS, China, dan Jepang,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keynote speech di forum IBC Business Outlook 2026 yang diselenggarakan Indonesian Business Council (IBC) akhir pekan lalu, melalui keterangan tertulis dikutip Sabtu (17/1/2026).

Hadir dalam acara itu, antara lain Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, CEO IBC Sofyan A Djalil, Chairman of IBC Board of Trustee Arsjad Rasjid, Expert Panel IBC Agus Martowardjojo, TAsistensi Menko Perekonomian Raden Pardede, serta para perwakilan kedutaan besar negara sahabat.

Menurut Airlangga, selama tujuh tahun terakhir ekonomi Indonesia konsisten tumbuh sekitar 5 persen per tahun, dengan stabilitas makroekonomi tetap terjaga dan inflasi Desember 2025 berada pada level 2,92 persen.

Kinerja pasar keuangan juga menunjukkan tren positif, dengan indeks harga saham yang terus mencetak rekor, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta aktivitas sektor riil yang tetap ekspansif. Tercermin dari PMI manufaktur 51,2 dan Indeks Kepercayaan Konsumen yang meningkat ke level 123,5.

Posisi eksternal Indonesia juga tetap solid, ditopang surplus neraca perdagangan serta cadangan devisa yang mencapai USD156,1 miliar.

Baca juga: Diklaim Sukses Tahun 2025, Paket Stimulus Ekonomi Dilanjutkan Tahun Ini

Dari sisi pembiayaan dan investasi, pertumbuhan kredit perbankan tetap terjaga mendekati 8 persen, sementara realisasi penanaman modal asing (FDI) menunjukkan tren peningkatan. Mencerminkan kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

Airlangga menyatakan, APBN tetap menjadi instrumen kebijakan yang kredibel dan bertanggung jawab. Defisit APBN 2025 dijaga di bawah 3 persen, dengan rasio utang tetap terkendali.

Pemerintah juga telah menyiapkan paket stimulus ekonomi sepanjang 2025 dengan nilai total Rp110,7 triliun, untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi.

Memasuki tahun 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4 persen. Didukung penguatan sektor riil, paket kebijakan ekonomi, serta 8 program prioritas nasional.

Fokus utama diarahkan pada penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang diharapkan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru setiap tahun.

Selain itu, APBN juga diarahkan untuk mendukung pengembangan SDM melalui program pendidikan, perlindungan sosial, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja.

Pemerintah menyiapkan berbagai program peningkatan produktivitas, termasuk program magang bagi lulusan baru perguruan tinggi, pelatihan tenaga kerja, serta memfasilitasi penempatan tenaga kerja ke luar negeri di sektor-sektor strategis.

Di tengah percepatan transformasi digital, Indonesia juga terus mendorong penguatan ekonomi digital kawasan melalui inisiatif ASEAN Digital Economy Framework Agreement.

Pemerintah memperluas sistem pembayaran digital QRIS secara regional dan internasional sebagai bagian dari upaya memperkuat inklusi keuangan dan literasi digital masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga terus memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan regulasi dan percepatan pelaksanaan program strategis nasional.

Sejumlah sektor padat karya, seperti industri tekstil, elektronik, dan manufaktur berorientasi ekspor, menjadi perhatian utama untuk menjaga daya saing dan melindungi jutaan tenaga kerja di tengah dinamika perdagangan global.

Baca juga: BI: Tahun Depan Ekonomi Global Melemah, Ekonomi Indonesia Makin Baik

Menko Airlangga mengajak seluruh pelaku usaha dan pemangku kepentingan, untuk tetap optimistis terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Dengan fundamental ekonomi yang kuat, kebijakan fiskal yang prudent, serta agenda reformasi struktural yang berkelanjutan, Indonesia diyakini mampu menjaga stabilitas dan memperkuat pertumbuhan ekonomi.

“Jadi, menghadapi periode mendatang, saya pikir kita harus optimis, akan ada banyak berita baik. Saya yakin, tren global termasuk IMF, juga optimis pada ekonomi Indonesia,” pungkas Menko Airlangga.

Dekati 6 persen
Sebelumnya di tempat terpisah di Jakarta, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyatakan optimisme serupa. Ia menyatakan yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa mendekati 6 persen, seiring koordinasi yang makin baik antara kebijakan fiskal dan moneter.

Untuk mencapai hal itu, ia akan mendorong percepatan belanja pemerintah di kementerian dan lembaga (K/L). Ia akan turun langsung untuk memastikannya. K/L yang belanjanya lelet, akan dipangkas anggarannya.

Selain dari sisi fiskal, Purbaya juga akan mendorong belanja sektor swasta dengan memperbaiki iklim bisnis dan investasi melalui Satuan Tugas (Satgas) Debottlenecking atau P2SP, yang buka 24 jam melalui lama https://lapor.satgasp2sp.go.id.

Baca juga: Dahului BPS, Purbaya Sebut Ekonomi Triwulan IV-2025 Tak Akan Tumbuh Sesuai Janji 5,7 Persen

Lewat satgas yang dibentuk sejak awal Desember 2025 itu, pelaku usaha dapat menyampaikan pengaduan langsung terkait kendala investasi dan operasional yang mereka alami. Seluruh pengaduan akan dibahas secara terbuka setiap pekan.

Sejauh ini sudah masuk beberapa aduan menyangkut perizinan, pembiayaan, hingga perdagangan. Menkeu memastikan menindaklanjuti segera aduan tersebut lewat pemanggilan langsung, untuk kemudian mencarikan solusinya.