Modal Asing Masih Terus Keluar dari Pasar Saham, Tapi Rupiah Menguat
Bank Indonesia melaporkan, Jumat (13/2/2026), pada akhir perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, nilai tukar rupiah di pasar dolar Jakarta (Jisdor) ditutup pada level (bid) Rp16.810 per dolar AS (USD). Menguat 15 poin dibanding penutupan perdagangan Kamis pekan lalu, 5 februari 2026, yang berada di level Rp16.825.
Penguatan rupiah itu terjadi bersamaan dengan naiknya imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ke level 6,42 persen. Sementara indeks dolar AS atau DXY melemah ke level 96,93, dan yield surat utang pemerintah AS atau US Treasury (UST) Note 10 tahun turun ke level 4,098 persen.
Pada awal perdagangan Jumat, 13 Februari 2026, rupiah dibuka pada level (bid) Rp16.815 per USD, dan ditutup makin melemah ke level Rp16.844. Pelemahan rupiah itu seiring penurunan yield SBN 10 tahun ke level 6,38 persen.
Namun, dibanding penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, 6 Februari 2026, di level Rp16.887, kurs rupiah pada penutupan perdagagan Jumat pekan ini tetap menguat 43 poin.
Baca juga: Moody’s Turunkan Prospek Utang RI, Rupiah Melemah
Penguatan rupiah itu terjadi saat arus modal asing portofolio masih terus keluar sepanjang pekan ini dari pasar saham Indonesia.
Menurut catatan Bisnis.com, pada 12 Februari 2026 investor asing net sell Rp1,49 triliun di pasar saham. Melanjutkan net sell Rp721,77 miliar pada 9 Februari, Rp708,01 miliar pada 10 Februari, dan Rp526,42 miliar pada 11 Februari. Total sepanjang tahun berjalan 2026 modal asing kabur Rp14,46 triliun dari pasar saham.
Sementara di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), BI mencatat transaksi senilai Rp14,15 triliun, dengan total penempatan (setelmen) sepanjang 2026 hingga 12 Februari mencapai Rp27,94 triliun.
Sedangkan untuk SBN, BI tidak lagi menyediakan datanya sejak pekan lalu. Sementara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, tidak merilis data modal asing di SBN secara mingguan.