Jumat, Februari 27, 2026
HomeNewsEkonomiFebruari Industri Manufaktur Tetap Semangat Berekspansi

Februari Industri Manufaktur Tetap Semangat Berekspansi

Ekonomi adalah lokomotif bisnis properti. Ekonomi moncer, bisnis properti juga bergairah. Salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi itu adalah manufaktur atau industri pengolahan.

Pada Februari 2026, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan Kamis (26/2/2026), kinerja manufaktur nasional tetap ekspansif.

Tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 sebesar 54,02 (>50 alias ekspansif). Melambat tipis 0,10 poin dibanding IKI Januari 2026, namun meningkat 0,87 poin dibanding Februari 2025 dan menjadi yang tertinggi kedua sejak IKI diluncurkan November 2022.

Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 19 subsektor berada pada fase ekspansi, hanya 4 subsektor yang mengalami kontraksi (indeks <50). Subsektor yang berada pada fase ekspansi memiliki kontribusi sebesar 92,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.

“Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman, serta Industri Alat Angkutan Lainnya,” kata Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief melalui keterangan Kamis (26/2/2026).

Baca juga: Januari Kepercayaan Industri Cetak Rekor Tertinggi, Produksi Melonjak

Kedua subsektor tersebut mengalami ekspansi seiring meningkatnya permintaan dari sejumlah sektor industri, seperti industri makanan, minuman, tekstil dan produk tekstil (TPT), serta alas kaki, dengan industri pencetakan berperan sebagai sektor pendukung.

Faktor lain, adanya kenaikan penjualan sepeda motor pada Januari 2026 yang mencapai 577.763 unit, meningkat 3,11 persen dibanding Januari 2025 (yoy).

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026, Kemenperin mencermati adanya peningkatan konsumsi rumah tangga terhadap komoditas industri pakaian, alas kaki, serta jasa perawatannya. Pada 2024, pertumbuhan konsumsi sektor ini tercatat 2,73 persen dan meningkat menjadi 4,52 persen pada 2025.

Namun, berdasarkan hasil pengamatan terhadap IKI, khususnya IKI pasar domestik 2025, industri pakaian jadi yang berorientasi pasar dalam negeri justru mengalami kontraksi. Kondisi ini mengindikasikan, peningkatan konsumsi rumah tangga tersebut tidak sepenuhnya diserap oleh produk industri dalam negeri.

“Terdapat indikasi kuat, kenaikan permintaan tersebut lebih banyak dipenuhi produk impor,” ujar Febri. Karena itu, Kemenperin memandang momentum peningkatan konsumsi domestik seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh industri dalam negeri, guna memperkuat struktur manufaktur nasional dan meningkatkan daya saingnya.

Adapun subsektor yang mengalami kontraksi, adalah Industri Kayu, Barang dari Kayu, dan Gabus (Tidak Termasuk Furnitur dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan sejenisnya, Industri Barang Galian Non Logam, Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik, dan Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan.

Sekretaris Direktorat Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Sri Bimo Pratomo menyatakan, Industri Barang Galian Non Logam mengalami kontraksi pada variabel pesanan dan persediaan, karena menurunnya permintaan dalam negeri yang berasal dari pengadaan pemerintah.

“Banyak proyek infrastruktur belum berjalan, sehingga permintaan produk bahan bangunan (BGNL) juga ikut turun. Kemungkinan besar (proyek baru) akan dimulai setelah Lebaran,” tuturnya.

Baca juga: Awal Tahun PMI Manufaktur Ngegas, Pesanan Baru dan Produksi Meningkat, Pengusaha Lebih Pede

Pada variable produksi Industri Kayu, Barang dari Kayu, dan Gabus, kontraksi terjadi karena ketidakpastian global dan beberapa kekhawatiran pelaku industri terhadap dampak kesepakatan perdagangan global.

“Subsektor Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik, mengalami penurunan pada pesanan luar negeri yang menyebabkan terjadinya kontraksi pada IKI Februari 2026. Selain itu, komponen elektronik berbahan baku semikonduktor saat ini tengah mengalami kelangkaan,” kata Direktur Industri Peralatan Pertanian dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP) Solehan.

Kedua orientasi pasar IKI baik ekspor maupun impor, masih berada dalam zona ekspansi meskipun mengalami sedikit perlambatan.

IKI orientasi ekspor pada Februari 2026 berada di level 54,61 atau melambat 0,01 poin dibanding Januari 2026 yang berada di level 54,62. Sedangkan IKI berorientasi pasar domestik, berada di level 53,12, melambat 0,13 poin dibanding Januari 2026 yang berada di level 53,25.

Secara umum, kondisi kegiatan usaha pada Februari 2026 masih tergolong baik. Sebanyak 77,6 persen responden menyampaikan kegiatan usahanya membaik dan stabil.

Tingkat optimisme pelaku usaha meningkat menjadi 73,5 persen, sementara tingkat pesimisme menurun menjadi 3,9 persen.

Seluruh variabel pembentuk IKI, yakni pesanan, produksi, dan persediaan, berada pada zona ekspansi. Variabel produksi mencatat ekspansi tertinggi sejak Januari 2025, dan telah berada pada fase ekspansi selama dua bulan berturut-turut.

Berita Terkait

Ekonomi

Januari Penerimaan Pajak Melesat, Tapi Belanja Negara Juga Melonjak

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan negara mencapai Rp172,7 triliun...

Awal Tahun Belanja Pemerintah Ngegas, Kredit Tumbuh Double Digit

Bank Indonesia melaporkan, Senin (23/2/2026), likuiditas perekonomian atau uang...

Berita Terkini