Di Tengah Konflik Timur Tengah, KEK Greater Jakarta Bisa Jadi Alternatif Investasi
Semakin matangnya area kawasan industri Bekasi serta kian terbatasnya lahan baru, ekspansi industri kini bergerak menuju koridor timur seperti wilayah Karawang, Purwakarta, dan Subang yang menawarkan keunggulan dari sisi ketersediaan lahan, konektivitas logistik, dan kesiapan untuk manufaktur skala besar.
Kawasan Ekonomi Kawasan (KEK) Batang dan Subang pun berkembang menjadi pusat distribusi regional berkat infrastruktur terintegrasi dan dukungan insentif pemerintah.
Pada saat bersamaan, Indonesia kian dipandang sebagai lokasi strategis bagi produsen asal China.
Didukung oleh kondisi geopolitik yang tidak stabil dan kebutuhan diversifikasi manufaktur, investor China memperluas portofolio mereka di Indonesia. Namun, dinamika geopolitik global dapat berdampak pada perilaku investor.
Menurut tim Industrial and Logistics Services Colliers Indonesia, meskipun Indonesia tidak berada di wilayah konflik, termasuk konflik antara Iran dan AS‑Israel, situasi tersebut tetap dapat memengaruhi sentimen investasi.
Menurut Rivan Munansa, Head of Industrial and Logistics Services Colliers Indonesia, operasional perusahaan China di Indonesia masih berjalan stabil tetapi investor baru cenderung mengambil langkah yang lebih hati-hati.
“Hal itu membuat ada implikasi terhadap rantai pasok yang dapat bervariasi dalam bentuk maupun hasil. Berbagai potensi maupun dampak yang dapat timbul di tengah kondisi ketegangan global yang saat ini berlangsung bisa dilihat dari berbagai faktor,” ujarnya melalui siaran pers yang diterbitkan Selasa (10/03).
Baca juga: Opini: Kawasan Industri
Rivan membagi tiga potensi dampak konflik yang dapat terjadi. Pertama, potensi hambatan jangka pendek berupa ketegangan global yang dapat menyebabkan penundaan ekspansi karena investor cenderung bersikap lebih berhati‑hati.
Kedua, potensi perubahan dalam jangka menengah seperti permintaan lahan industry yang berpeluang meningkat apabila Indonesia dinilai memiliki stabilitas dan daya saing yang memadai.
Ketiga, potensi penyesuaian dalam jangka panjang seperti perubahan dalam rantai pasok dari wilayah yang terdampak dapat mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan berbagai lokasi produksi alternatif dengan Indonesia sebagai salah satu kemungkinan yang dievaluasi.
Dengan meningkatnya momentum di koridor timur Greater Jakarta, investor dan pengembang kini menyesuaikan strategi mereka. Bekasi dan Karawang lebih banyak menyerap Standard Factory Buildings (SFB) plug‑and‑play sementara Purwakarta dan Subang diminati pembeli lahan besar.
Baca juga: Kawasan Industri Terus Melaju, Saat Properti Lain Masih Lesu
Peningkatan konektivitas, terutama melalui Pelabuhan Patimban dan jaringan jalan tol baru, telah memposisikan kembali kawasan industri di koridor timur sebagai anchor utama, bukan lagi sebagai hub satelit sekunder.
“Dalam proses memperkuat struktur industrinya, Indonesia dapat menempatkan KEK sebagai komponen strategis bagi pertumbuhan ekonomi masa depan mencakup fungsi manufaktur ekspor serta peran sebagai hub distribusi regional dan simpul rantai pasok terintegrasi,” bebernya.