7 Tahun MRT Angkut 192 Juta Penumpang
MRT Jakarta merupakan transportasi publik modern yang beroperasi sejak 24 Maret 2019. Dalam kurun waktu tersebut hingga Februari 2026, MRT Jakarta telah mengantarkan lebih dari 192 juta pelanggan ke berbagai tujuannya.
Dengan 16 kilometer pertamanya dan 16 rangkaian kereta, MRT Jakarta telah berhasil menerapkan standar baru budaya bertransportasi publik. Tujuh tahun melayani pelanggan, angka keterangkutan menunjukkan konsistensi peningkatan setiap tahunnya.
Menurut Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta (Perseroda) Rendy Primartantyo, pada tahun 2019 tercatat 24 juta orang menggunakan layanan MRT Jakarta dengan rata-rata harian mencapai 86 ribu pelanggan.
“Angka ini melampaui target awal 65 ribu pelanggan per hari namun jumlah tersebut turun saat dunia dilanda pandemi Covid-19. Pada 2020 dan 2021, angka keterangkutan turun hingga 9,9 juta dan 7,1 juta pelanggan dengan rata-rata harian hanya 27 ribu dan 19 ribu pelanggan,” ujarnya melalui keterangan pers Selasa (31/03).
Saat dunia perlahan pulih begitu pula dengan MRT Jakarta. Pada tahun 2022, angka keterangkutan meningkat hingga 17 persen yakni 19,7 juta pelanggan. Tahun berikutnya pun meningkat hingga 33,5 juta pelanggan dengan 91 ribu pelanggan per hari, naik mencapai 69 persen. Pada 2024, angka keterangkutan harian menembus 111 ribu per hari dengan total 40,8 juta.
Pada tahun 2025, kepercayaan besar masyarakat terhadap layanan MRT Jakarta selaras dengan kenaikan jumlah pelanggan hingga 46,5 juta dengan rata-rata harian mencapai 127 ribu orang, melampaui target 117 ribu pelanggan per hari.
Peningkatan ini menunjukkan antusiasme masyarakat untuk beralih menjadi pengguna transportasi publik. Maka pada tahun ketujuh operasionalnya, MRT Jakarta menargetkan sebanyak 50 juta pelanggan dengan rata-rata harian 137 ribu pelanggan.
Harus diakui MRT Jakarta telah menjadi katalisator perubahan budaya dan kota yang kehadirannya bukan semata sebagai alat angkut manusia. Lebih jauh lagi MRT telah menjelma sebagai katalis perubahan budaya bermobilitas masyarakat saat di ruang dan transportasi publik.
Baca juga: Hari MRT 2026: Melaju Menyatukan Masa Depan Kota
Keteraturan, ketertiban, serta kedisiplinan menjadi kebiasaan yang membanggakan. Perubahan manusia tersebut seiring dengan kehadiran infrastruktur integrasi dan interkoneksi yang memudahkan akses bagi semua.
Sebagai operator utama pembangunan kawasan berorientasi transit (transit-oriented development), MRT Jakarta terus memastikan impian integrasi dan interkoneksi sistem transportasi publik di Jakarta terlaksana sesuai dengan standar internasional mulai aspek keamanan, kenyamanan, dan keandalan yang lazim diterapkan di negara lain yang memiliki sistem metro.
Standar pelayanan MRT Jakarta tidak akan mampu memenuhi harapan masyarakat apabila interkoneksi dan integrasi dengan bangunan serta transportasi publik lainnya tidak terpenuhi. Maka dihadirkan kampanye #UbahJakarta yang mendapat pengakuan internasional.
Pada 2024 lalu Community of Metros (COMET), sebuah komunitas metro seluruh dunia yang terdiri dari 45 sistem metro dari 41 negara, menginisiasi indeks kepuasan pelanggan dan MRT Jakarta mendapatkan nilai tertinggi dibandingkan 30 metro yang disurvei. Nilai tertinggi diraih pada asek kenyamanan dan keamanan kereta serta stasiun, keandalan layanan, dan jam operasional yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Baca juga: Tahun Ini MRT Jakarta Targetkan 50 Juta Pengguna
Bahkan pengakuan internasional tersebut juga datang dalam bentuk menjadi rujukan pelatihan atau studi banding bagi operator metro dari negara sahabat seperti Bangladesh dan Vietnam. Operator Dhaka Metro dan Ho Chi Minch Metro menjadikan MRT Jakarta sebagai tempat pelatihan, belajar, dan persiapan operasionalnya.
“Kami terus menjalankan kampanye #UbahJakarta untuk menjadi kunci perubahan budaya dan kota di Indonesia. Kami akan terus melaju untuk menyatukan masa depan kota dan tidak berhenti mengajak masyarakat agar sama-sama membangun Jakarta dan Indonesia demi keberlanjutan masa depan bangsa,” pungkas Rendy.