Manufaktur RI Melaju Lagi, Tertinggi dalam 7 Bulan, Didorong Kenaikan Permintaan
Kinerja industri pengolahan atau manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi (indeks >50) pada September 2026, setelah mengalami kontraksi (indeks <50) pada Agustus 2026.
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global, Kamis(1/10/2026), mengungkapkan, PMI Indonesia berada di level 52,4 pada September 2026 atau mengalami ekspansi.
PMI September itu berbalik arah dari Agustus 2026 yang turun ke fase kontraksi dengan indeks 49,8 dari 50,2 (ekspansif) pada Juli 2026.
Indeks PMI Manufaktur RI pada September 2026 itu merupakan yang tertinggi sejak Februari 2026 atau dalam tujuh bulan terakhir.
Kenaikan yang tinggi pada PMI Manufaktur September 2026 itu, didorong oleh peningkatan permintaan terhadap barang Indonesia.
Pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari, didorong oleh peningkatan permintaan dan dimulainya proyek-proyek baru.
Pesanan ekspor juga meningkat untuk bulan kedua berturut-turut, sekaligus mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.
Kenaikan permintaan mendorong produksi manufaktur kembali tumbuh, setelah sempat turun tipis pada Juli. Output meningkat pada laju tercepat sejak Februari, didukung permintaan pelanggan, proyek baru, daya beli yang membaik, dan bertambahnya variasi produk.
Produksi meningkat, pelaku manufaktur pun meningkatkan jumlah tenaga kerja pada September, guna memenuhi beban kerja yang meningkat.
Ini menjadi ketiga kalinya tahun ini sektor manufaktur menyerap lebih banyak pekerja. Laju pertumbuhan tenaga kerja pda September 2026 juga menjadi yang tercepat sejak Februari 2025.
Meski kapasitas produksi meningkat, tunggakan pekerjaan (backlog) justru melonjak pada laju tercepat dalam lima tahun. Pada saat bersamaan, persediaan barang jadi turun pada laju tercepat sejak Agustus 2020.
Tekanan biaya mulai mereda. Inflasi harga input turun ke level terendah dalam enam bulan, meski masih berada di atas rata-rata historis survei.
Kenaikan biaya bahan baku, harga pemasok, pergerakan nilai tukar, kelangkaan pasokan, dan kebijakan bahan bakar masih menjadi sumber tekanan. Sementara harga jual produk manufaktur naik pada laju paling lambat dalam enam bulan.
Meningkatnya permintaan dan melambatnya inflasi harga input, mendorong produsen kembali meningkatkan pembelian bahan baku.
Pembelian input baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari, sementara persediaan bahan baku meningkat pada laju terkuat sejak Maret 2024. Sebelumnya, selama April-Juli persediaan input terus menurun.
Rantai pasok secara umum tetap stabil, dengan waktu pengiriman pemasok hanya sedikit lebih panjang pada September.
Optimisme produsen manufaktur terhadap kondisi 12 bulan ke depan tetap kuat, meski sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya.
Ekspektasi peningkatan produksi didorong oleh permintaan yang lebih kuat, proyek baru, rencana ekspansi bisnis, dan harapan harga bahan baku yang lebih stabil.
Trevor Balchin, Economics Director di S&P Global Market Intelligence, mengatakan sektor manufaktur Indonesia menutup kuartal III dengan kinerja kuat.
“Output dan pekerjaan baru sama-sama meningkat solid, didukung kenaikan ekspor dan menghasilkan bulan terkuat bagi sektor ini sejak Februari, sebelum konflik di Timur Tengah pecah,” katanya melalui keterangan di situs resmi S&P.
Ia menilai, prospek produksi dalam jangka pendek terlihat menjanjikan. Backlog meningkat paling tinggi dalam lima tahun, meski perusahaan juga mencatat pertumbuhan tenaga kerja tercepat sejak awal 2025.
Produsen menggunakan persediaan yang ada untuk memenuhi pesanan, terlihat dari penurunan stok barang jadi pada laju tercepat dalam lebih dari enam tahun.
Di sisi biaya, inflasi harga input melambat ke level terendah enam bulan, sehingga perusahaan meningkatkan pembelian dan mengisi kembali stok bahan baku.
Sementara inflasi harga output juga melandai ke level terendah dalam enam bulan, yang dinilai dapat mendukung pertumbuhan pesanan baru dalam beberapa bulan mendatang.