MotoGP Mandalika, Kemenpar Dorong Pengembangan Sports Tourism
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mendorong penguatan langkah kolaboratif untuk memperkuat potensi wisata olahraga (sports tourism) Tanah Air sebagai salah satu strategi utama meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional.
Widiyanti menyampaikan hal itu saat peluncuran Buku MotoGP Mandalika 2025: Akselerasi Ekonomi, Citra, dan Pariwisata yang juga menganggas penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional di Gedung Bappenas pekan lalu.
“Kami meyakini bahwa desain besar ini akan menjadi fondasi penting yang semakin memperkuat posisi sports tourism sebagai salah satu motor pertumbuhan pariwisata Indonesia ke depan. Karenanya kita perlu terus bersinergi agar sports tourism di Indonesia dapat tumbuh menjadi lebih baik,” ujar Widiyanti melalui siaran pers Selasa (6/10).
Olahraga merupakan salah satu tema dari pariwisata yang sangat potensial untuk terus dikembangkan. Secara global, olahraga telah terbukti menjadi magnet pariwisata yang sangat efektif mendatangkan wisatawan dan mendorong aktivitas perekonomian.
Survei Expedia menyebutkan, 44 persen wisatawan rela bepergian ke luar negeri untuk hiburan olahraga yang mereka inginkan dengan rata-rata pengeluaran mencapai 1.500 dollar Amerika.
Angka ini bahkan melebihi rata-rata pengeluaran wisatawan ke Indonesia saat ini. UN Tourism juga mencatat bahwa sports tourism berkontribusi 10 persen terhadap total belanja wisatawan global dan akan terus bertumbuh sebesar 17,5 persen hingga tahun 2030.
“Peluang ini terasa semakin dekat bagi Indonesia karena gaya hidup masyarakat kita sudah bergerak ke arah yang sama. Indonesia dengan kekayaan alam dan infrastruktur pendukung, memiliki potensi yang besar dalam pengembangan wisata berbasis olahraga. Berbagai event berstandar internasional telah mencatatkan kesuksesan dalam penyelenggaraanya di Indonesia,” imbuhnya.
Salah satunya MotoGP Mandalika yang pada penyelenggaraan di tahun 2025 memberikan dampak ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp2,7-4,7 triliun. Selain itu juga ada HYROX Jakarta yang diselenggarakan pada 27-28 Juni 2026 dengan jumlah peserta mencapai 11.500, menjadikannya sebagai event Hyrox dengan jumlah peserta terbesar di Asia Pasifik, di mana 15 persen di antaranya berkewarganegaraan asing.
Indonesia juga memiliki banyak event olahraga dengan intellectual property seperti Jakarta International Marathon serta berbagai event yang menjadi pengungkit destinasi pariwisata Indonesia seperti rangkaian Geopark Run.
Namun begitu menurut Widiyanti, pengembangan wisata olahraga juga memiliki sejumlah tantangan. Pertama adalah pemerataan di mana event olahraga harus dapat menyebar dan tumbuh di setiap daerah, jadi bukan hanya terkonsentrasi di sebagian destinasi unggulan.
“Untuk itu, pemerintah secara konsisten mendorong pemerintah daerah, kementerian/lembaga, swasta, maupun pemerhati pariwisata lainnya untuk merancang event olahraga yang lahir dari karakter dan keunikan lokal, bukan sekadar replikasi format yang sudah teruji di tempat lain,” katanya.
Tantangan kedua adalah terkait daya dukung destinasi. Konsentrasi kunjungan pada musim puncak penyelenggaraan event kadang menimbulkan tekanan berlebih terhadap kapasitas destinasi. Sebut saja ketersediaan akomodasi hingga infrastruktur pendukung lainnya.
Tantangan selanjutnya adalah keberlanjutan kunjungan di luar masa penyelenggaraan event. Sebuah destinasi sports tourism yang matang adalah destinasi yang tetap hidup dan dikunjungi sepanjang tahun. Hal lain yang juga penting adalah standarisasi layanan, profesionalisme penyelenggara, hingga pengelolaan risikoyang baik sebagai prasyarat mutlak bagi event berkelas dunia.
“Inilah mengapa kita harus terus mengembangkan produk wisata berbasis sports tourism tadi sebagai daya tarik di luar pekan event. Melalui penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga ini harapannya bisa terus diidentifikasi berbagai tantangan dan bagaimana bisa kita selesaikan bersama,” pungkas Widiyanti.