Rupiah Terpuruk Kendati Modal Asing Masih Rajin Masuk
Naik turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) kadang sulit ditebak. Data perekonomian Amerika Serikat (AS) yang terus membaik disebut pengamat membuat nilai tukar rupiah melemah, kendati modal asing portofolio tetap melanjutkan aksi masuk ke Indonesia dan premi risiko investasi RI tetap rendah.
Bank Indonesia melaporkan, Jum’at (9/1/2025), pada akhir perdagangan Kamis, 8 Januari 2026, rupiah ditutup pada level (bid) Rp16.785 per USD. Melemah tipis 20 poin dibanding Rp16.765 per USD pada Selasa pekan sebelumnya.
Penurunan kurs rupiah tetap terjadi bersamaan dengan menguatnya indeks dolar AS atau DXY ke level 98,93, dan naiknya imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) RI 10 tahun ke level 6,05 persen. Sementara yield surat utang pemerintah AS atau US Treasury (UST) Note 10 tahun turun ke level 4,167 persen.
Pada awal perdagangan Jumat, 9 Januari 2026, rupiah dibuka makin melemah ke level (bid) Rp16.815 per USD, sebelum ditutup makin terpuruk ke level Rp16.834 pada penutupan perdagangan. Merosot 109 poin dibanding akhir perdagangan Jum’at pekan sebelumnya yang berada di level Rp16.725 per USD. Kenaikan yield SBN 10 tahun ke level 6,15 persen tidak cukup kuat menahan kemerosotan rupiah.
Baca juga: Rupiah Fluktuatif dan Kredit Tetap Lesu, BI Pertahankan BI Rate 4,75 Persen
Premi risiko investasi atau credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 8 Januari 2026 masih rendah, di level 69,57 bps kendati sedikit naik dibanding 2 Januari 2026 sebesar 67,62 bps.
Aliran masuk modal asing portofolio juga masih berlanjut. Selama 5 – 8 Januari 2026, asing membawa masuk bersih (beli neto) dana Rp1,44 triliun.
Terdiri dari beli neto Rp1,78 triliun di pasar saham dan Rp1,04 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta jual neto (keluar bersih) Rp1,38 triliun di pasar SBN.
Selama tahun 2026 hingga 8 Januari 2026, asing tercatat beli neto Rp3,85 triliun di pasar saham, Rp3,23 triliun di pasar SBN, dan Rp0,26 triliun di SRBI.