Rupiah Dekati Kurs Saat Krismon 1998, Kendati Asing Ramai Borong Saham
Investor asing makin ramai memborong saham di pasar modal Indonesia, yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir pekan ini menembus 9.100. Selama 12-14 Januari 2026 saja, Bank Indonesia mencatat modal asing masuk ke pasar saham senilai Rp3,08 triliun.
Kendati demikian, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) justru makin ambrol. Pada akhir perdagangan Rabu, 14 Januari 2026, Bank Indonesia 9BI) melalui Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso melaporkan, rupiah ditutup pada level (bid) Rp16.855 per USD. Melemah 70 poin dibanding penutupan perdagangan Kamis pekan lalu (8/1/2026), yang tercatat di level (bid) Rp16.785.
Pada awal perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, rupiah dibuka sedikit menguat ke level (bid) Rp16.840 per USD, namun ditutup makin melemah ke level Rp16.880 pada penutupan perdagangan, dibanding Rp16.834 pada penutupan perdagangan Jum’at pekan lalu.
Nilai tukar rupiah ini mendekati kurs saat krisis moneter (krismon) 1998 yang sempat menyentuh angka Rp17.000 per USD. Imbal hasil (yield) SBN 10 tahun yang naik ke level 6,21 persen, kemudian naik lagi menjadi 6,23 persen pada Kamis, tidak cukup kuat menahan pelemahan rupiah.
Para pengamat menyatakan, pelemahan rupiah mendekati level psikologis Rp17.000 itu lebih karena tekanan faktor eksternal, berupa ketidakpastian global yang dipicu berbagai peristiwa geopolitik dan ekonomi.
Hal itu mendorong pemilik modal mencari rasa aman, dengan menarik dana dari emerging market seperti Indonesia, untuk dipindahkan ke USD sebagai safe haven.
Tercermin dari penurunan indeks dolar atau DXY ke level 99,06, dan penurunan yield surat utang pemeritah AS atau US Treasury (UST) Note 10 tahun ke level 4,132 persen.
Baca juga: Risiko Investasi Kian Rendah, Modal Asing Kembali Banyak Masuk, Tapi Rupiah Kian Payah
Faktor internal seperti kondisi ekonomi domestik Indonesia, secara umum masih baik. Cadangan devisa juga memadai hampir USD157 miliar, dan neraca dagang masih terus mencatat surplus.
Karena ekonomi domestik yang tetap resilien itu, asing tetap ramai masuk ke pasar saham. Apalagi, para emiten di pasar modal mencatat pertumbuhan laba selama 2025, yang makin menaikkan sentimen investor asing yang optimis peningkatan laba itu akan berlanjut tahun ini.
Situasi serupa Indonesia, pasar saham booming namun nilai tukar mata uangnya merosot, juga terjadi di banyak negara lain seperti Jepang, Korea, dan India.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di tempat terpisah menyatakan, semua pihak tidak perlu berekasi berlebihan terhadap kemerosotan nilai tukar rupiah itu.
Alasannya fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan investor global mempercayainya, yang ditunjukkan melalui masuknya uang mereka ke pasar modal Indonesia.
Pemerintah terus berkoordinasi dan menunggu masukan dari BI terkait langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga nilai tukar rupiah. Purbaya optimis dengan pengelolaan yang tepat, rupiah akan kembali menguat dalam dua minggu ke depan.