KADIN Paparkan Potensi Besar Pertumbuhan Hijau Indonesia
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya N. Bakrie menegaskan bahwa pertumbuhan hijau bukanlah agenda yang berdiri sendiri melainkan bagian tak terpisahkan dari cerita besar pertumbuhan nasional Indonesia. Hal ini disampaikan dalam sesi panel Indonesia Economic Summit (IES) Thought Leadership bertajuk “How Can Indonesia Leverage The Green Sectors to Boost Growth” di Jakarta pekan ini.
Menurut Anindya, pertumbuhan hijau perlu dipahami sebagai satu kesatuan yang mencakup aspek pertumbuhan ekonomi, transisi energi, hingga dinamika geopolitik global. Pendekatan tersebut dinilai penting agar Indonesia bisa mengambil peran strategis dalam perubahan lansekap ekonomi dunia.
“Pertumbuhan hijau pada dasarnya bukan sesuatu yang berjalan paralel tetapi merupakan bagian dari cerita pertumbuhan nasional. Setidaknya ada tiga dimensi utama dalam pertumbuhan hijau yang harus kita upayakan,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi Kamis (05/02).
Tiga dimensi tersebut yaitu pertumbuhan hijau merupakan cerita tentang pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan investasi, perdagangan, industrialisasi, dan pada akhirnya membuka lapangan kerja. Kedua, pertumbuhan hijau berkaitan erat dengan agenda transisi energi, dan ketiga pertumbuhan hijau juga memiliki dimensi geopolitik yang semakin kuat di tingkat global.
Dalam konteks pertumbuhan ekonomi, Indonesia perlu menentukan posisi yang jelas dalam rantai pasok dan ekosistem global yang besar. Maka dua sektor utama yang memiliki potensi signifikan untuk mendorong pertumbuhan hijau yaitu elektrifikasi dan hilirisasi mineral.
Baca juga: Bank Indonesia Lansir Kalkulator Hijau untuk Mudahkan Hitung Emisi dari Kegiatan Ekonomi
Elektrifikasi mencakup sekitar 40 persen dari peluang dalam cerita pertumbuhan hijau. Saat ini sekitar 1,5 persen dari mobil baru yang dijual di Indonesia sudah merupakan kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Meski masih tertinggal dibandingkan China yang penetrasinya mencapai sekitar 90 persen atau Eropa sekitar 60 persen, tren tersebut akan membuka peluang terbentuknya industri dan ekosistem baru di dalam negeri.
“Ini menciptakan rangkaian industri dan ekosistem yang sama sekali baru. Banyak pelaku usaha khususnya dari China yang sudah membangun fasilitas produksinya di Indonesia. Selain elektrifikasi, sektor hilirisasi mineral kritis juga menjadi fokus utama,” katanya.
Indonesia bukan hanya dikenal sebagai produsen nikel dengan kontribusi sekitar 60 persen produksi dunia tetapi juga memiliki potensi besar pada komoditas lain seperti kobalt, tembaga, dan bauksit.
Sekitar 10 persen produksi global komoditas tersebut berasal dari Indonesia dengan aktivitas yang banyak berlangsung di kawasan Indonesia bagian timur sehingga berpotensi mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih merata.
Pertumbuhan hijau juga merupakan cerita besar transisi energi. Meningkatnya kebutuhan energi seiring perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pusat data (data center) dalam beberapa dekade ke depan akan menuju target net zero. Indonesia butuh sekitar 100 gigawatt listrik hanya untuk mendukung operasional pusat data.
“Maka untuk mendukung hilirisasi mineral kritis, Indonesia membutuhkan sekitar 500 gigawatt energi surya dalam 25 hingga 35 tahun ke depan. Dengan cadangan silika dan sumber daya alam yang dimiliki, peluang ini sangat besar bagi Indonesia,” bebernya.
Baca juga: Bank Indonesia Sudah Salurkan Insentif Rp36,38 Triliun untuk Pembiayaan Hijau
Sementara dari sisi geopolitik, isu pertumbuhan hijau dan transisi energi kini menjadi arena persaingan strategis global. Dalam berbagai forum internasional seperti Davos, APEC, dan G20, terlihat bahwa isu transisi energi semakin dominan dibahas oleh negara-negara besar.
“Saat ini China dinilai lebih aktif dibandingkan Amerika Serikat dalam mendorong agenda tersebut. Maka Indonesia harus sangat cermat dalam memainkan perannya sambil tetap membuka ruang kerja sama termasuk dengan negara-negara Timur Tengah yang dapat mendukung dari sisi pendanaan,” pungkas Anindya.