Inflasi Januari Meningkat Tinggi, di Atas Kisaran Sasaran 2,5±1 Persen
Badab Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Senin (2/2/2026), berdasarkan pemantauan di 150 kabupaten/kota, harga berbagai komoditas pada Januari 2026 secara umum meningkat.
Karena itu, pada Januari 2026 terjadi inflasi tahunan (yoy) sebesar 3,55 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026. Inflasi Januari 2026 ini di atas kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan Bank Indonesia.
Sementara secara bulanan (mtm) dan tahun kalender (ytd), terjadi deflasi atau penurunan IHK, masing-masing sebesar 0,15 persen.
Sebagai perbandingan, pada Desember 2025 terjadi inflasi secara tahunan dan tahun kalender sebesar masing-masing 2,92 persen. Sedangkan secara bulanan pada Desember 2025 terjadi inflasi 0,64 persen.
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers daring, inflasi tahunan pada Januari 2026 dipicu kenaikan sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, kecuali kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami penurunan indeks sebesar 0,19 persen.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi (tahunan) antara lain, makanan, minuman dan tembakau 0,46 persen, pakaian dan alas kaki 0,03 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,72 persen, kesehatan 0,05 persen, transportasi 0,07 persen, pendidikan 0,06 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,14 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 1,00 persen.
Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi (tahunan) pada Januari 2026 antara lain, beras, ikan segar, daging ayam ras, bawang merah, kopi bubuk, rokok, nasi dengan lauk, tarif listrik, sewa rumah, kontrak rumah, tarif air minum PAM, bahan bakar rumah tangga, upah asisten rumah tangga, sepeda motor, mobil, uang sekolah SD, uang kuliah akademi/PT, dan emas perhiasan.
Sedangkan yang dominan memberikan andil deflasi (tahunan) antara lain, cabai merah, cabai rawit, bawang putih, tomat, kentang, daging babi, jengkol, terong, sabun detergen bubuk, pengharum cucian/ pelembut, detergen cair, bensin, telepon seluler, dan uang sekolah SMA.
Baca juga: Inflasi 2025 Hampir Dua Kali Inflasi 2024
Sementara komoditas yang dominan memberikan andil deflasi (bulanan) pada Januari 2026, antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, wortel, kelapa, cabai hijau, kentang, jeruk, sawi hijau, bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antar kota.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil inflasi (bulanan), antara lain ikan segar, tomat, bawang putih, beras, ikan awetan, nasi dengan lauk, sewa rumah, sepeda motor, dan emas perhiasan.
Secara bulanan, tiga provinsi yang dilanda banjir dan longsor di Sumatra yang sebelumnya mencatat inflasi, pada Januarui 2026 secara bulanan mengalami deflasi.
Dengan kata lain, harga berbagai komoditas di tiga provinsi itu sudah kembali menurun, menyusul pemulihan wilayah terdampak banjir secara bertahap.
Ateng menyebutkan, Aceh deflasi 0,15 persen (mtm) pada Januari 2026 dari Desember 2025 inflasi 3,60 persen. Sumatra Utara deflasi 0,75 persen (mtm) dari bulan sebelumnya inflasi 1,66 persen, dan Sumatra Barat deflasi 1,15 persen dari Desember 2025 inflasi 1,48 persen.
“Secara umum kelompok makanan, minuman, dan tembakau, menjadi penyumbang deflasi terbesar di tiga provinsi tersebut,” ujar Ateng. Antara lain penurunan harga telur ayam ras, cabai merah, cabai rawit, beras, kelapa, bawang merah, cabai hijau, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, tarif angkutan antarkota, dan tarif air minum.