April Neraca Dagang RI Masih Surplus, Tapi Merosot Tajam Jadi USD89 Juta
Neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih mencatat surplus, kendati ada ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mempengaruhi harga minyak dunia dan rantai pasok barang dan jasa.
Itu artinya selama 72 bulan tanpa putus sejak Mei 2020 neraca dagang RI surplus. Namun, surplus neraca dagang pada April 2026 menyusut tajam dibanding Maret 2026.
Pada April 2026 ekspor mencapai USD25,30 miliar, naik 21,98 persen dibanding April 2025. Dari jumlah itu, ekspor nonmigas mencapai USD24,15 miliar atau meningkat 23,36 persen dibanding April 2025. Selebihnya sekitar USD1 miliar ekspor migas.
Sementara impor mencapai USD25,21 miliar, naik 22,49 persen dibandingkan April 2025, dengan impor nonmigas mencapai USD20,62 miliar atau naik 14,11 persen dibanding April 2025, sisanya impor migas.
Karena lonjakan impor migas itu, surplus neraca perdagangan RI April pun tinggal USD89,1 juta, jauh menyusut dibanding USD3,32 miliar pada Maret 2026.
Penyusutan drastis surplus neraca dagang ini sudah diperkirakan para pengamat sebelumnya, menyusul berlarut-larutnya ketegangan di Timur Tengah, dan pelemahan konsisten nilai tukar rupiah.
Menurut Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di jakarta, Selasa (2/6/2026), surplus neraca dagang pada April 2026 disumbang komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja, yang mencatat surplus USD3,53 miliar.
Namun, surplus nonmigas itu hampir seluruhnya habis oleh defisit perdagangan minyak dan gas (migas) sebesar USD3,44 miliar.
Secara kumulatif selama Januari-April 2026, surplus neraca perdagangan RI mencapai USD5,64 miliar, turun hampir 50 persen dibanding USD11,07 miliar pada periode yang sama 2025.
Sepanjang Januari-April 2026, ekspor Indonesia mencapai USD92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibanding Januari-April 2025. Sementara impor selama periode yang sama meningkat 13,40 persen menjadi USD86,51 miliar.
Baca juga: Neraca Perdagangan RI Surplus 70 Bulan Tanpa Putus
Meski perdagangan nonmigas masih mencatat surplus USD14,16 miliar, defisit perdagangan migas selama Januari-April 2026 yang mencapai USD8,52 miliar menggerus surplus tersebut.
Komoditas penyumbang utama surplus perdagangan RI selama Januari-April 2026, seperti sudah disinggung di atas, adalah minyak sawit dan produk turunannya, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Sementara impor nonmigas masih didominasi barang modal dan bahan baku industri, mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik.