Selasa, Juli 21, 2026
HomeNewsEkonomiTriwulan III Kegiatan Usaha dan Investasi Diprediksi Menurun, Ada Pengaruh Kondisi Ekonomi...

Triwulan III Kegiatan Usaha dan Investasi Diprediksi Menurun, Ada Pengaruh Kondisi Ekonomi dan Geopolitik

Setelah meningkat pada triwulan dua, pada triwulan III kinerja kegiatan uasaha diperkirakan menurun lagi. Mengutip Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI) yang dilansir akhir pekan lalu, pada triwulan III 2026, responden survei memprakirakan kegiatan usaha tetap terjaga dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) 11,75 persen, lebih rendah dibanding SBT 12,97 persen pada triwulan II 2026.

Kegiatan usaha diprakirakan meningkat pada industri pengolahan (SBT 1,47 persen), perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan motor (SBT 1,20 persen), sejalan dengan prakiraan tetap terjaganya permintaan masyarakat, serta konstruksi (SBT 0,95 persen) seiring dengan berlanjutnya pengerjaan sejumlah
proyek.

Juga meningkat kegiatan usaha di sektor pertambangan dan penggalian (SBT 0,51 persen), dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan. Sementara sektor lain menurun kinerjanya.

Secara semesteran, hasil SKDU menunjukkan, jumlah pelaku usaha yang melakukan investasi pada semester I 2026 masih cukup kuat.

Persentase responden yang menyatakan telah melakukan kegiatan investasi pada semester I 2026 mencapai 18,86%, lebih rendah dibanding semester II 2025 sebesar 24,83 persen.

Dari sisi nilai investasi, hasil SKDU mengindikasikan Saldo Bersih (SB) nilai investasi mencapai 51,16 persen pada semester I 2026, jauh lebih rendah dari semester II 2025 dengan SB 65,29 persen, namun masih lebih tinggi dari semester I 2025 dengan SB 48,90 persen.

Realisasi investasi pada semester I 2026 paling banyak berupa mesin (28,66 persen), kemudian bangunan/pabrik (22,44 persen), dan lain-lain (21,79 persen).

Sebagian besar responden menyatakan, investasi baru mencapai 49,73 persen, serta kombinasi antara investasi baru dan penggantian mencapai 25,22 persen.

Baca juga: Q2 Kegiatan Usaha dan Investasi Meningkat, Tapi Penggunaan Tenaga Kerja Menurun

Pada semester II 2026, persentase responden yang berencana melakukan investasi mencapai 18,79 persen, sedikit menurun dibanding semester I 2026 sebesar 18,86 persen.

Responden menginformasikan, terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat rencana investasi. Antara lain suku bunga (16,16 persen), perizinan (16,07 persen), infrastruktur (8,30 persen), dan faktor lainnya (33,01 persen) seperti kondisi ekonomi dan geopolitik.

Penyerapan tenaga kerja
Kendati pada triwulan III kegiatan usaha diprediksi menurun, penggunaan tenaga kerjanya diprakirakan meningkat dengan SBT 0,95 persen, jauh lebih tinggi dari triwulan II dengan SBT 0,14 persen.

Peningkatan penyerapan tenaga kerja diprakirakan bersumber dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (SBT 0,06 persen), sejalan dengan panen pada komoditas hortikultura dan perkebunan, penyediaan akomodasi dan makan minum (SBT 0,08 persen), serta real estat (SBT 0,12 persen).

Baca juga: Triwulan Satu Likuiditas, Rentabilitas dan Margin Dunia Usaha Menurun

Industri pengolahan atau manufaktur juga membaik penyerapan tenaga kerjanya, namun masih dalam fase kontraksi dengan SBT -0,14 persen pada triwulan III 2026, lebih tinggi dari SBT -0,54 persen pada triwulan II 2026, sejalan dengan aktivitas usahanya.

Menurunnya kegiatan usaha pada triwulan III, diikuti penurunan tekanan harga jual pada periode ulasan dengan SBT 15,94 persen, dibanding SBT 22,38 persen pada triwulan II 2026.

Penurunan tekanan harga jual terjadi pada industri pengolahan (SBT 2,22 persen), pertanian, kehutanan, dan perikanan (SBT 2,48 persen), serta perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan motor (SBT 4,24 persen), sejalan dengan penurunan biaya bahan baku/material.

Berita Terkait

Ekonomi

Kontribusi Investasi Hilirisasi Capai Hampir 30 Persen

Investasi di sektor hilirisasi terus menunjukkan tren yang meningkat...

BI: Manufaktur RI Tetap Ekspansif, Triwulan III Ekspansinya Akan Meningkat

Kalau Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur versi S&P Global...

Berita Terkini