Pasar ritel Jakarta berkembang makin kompetitif, berorientasi pada pengalaman, dan makin dipengaruhi oleh kebutuhan konsumen. Saat ini pusat perbelanjaan bukan hanya tempat berbelanja, tapi lebih sebagai destinasi gaya hidup.

Perubahan tersebut membuat kurasi (pemilihan sesuai segmen dan karakteristik pasar) tenant makin penting, guna menjaga relevansi , memperkuat daya saing, dan meningkatkan daya tarik komersial jangka panjang sebuah pusat perbelanjaan.

“Penting bagi pemilik pusat perbelanjaan membangun tenant mix yang lebih strategis, dan sesuai dengan profil pelanggan, pola belanja, preferensi gaya hidup, serta arah atau posisi bisnis mal dalam jangka panjang,” kata Sander Halsema, Head of Retail Services Colliers, dikutip dari keterangan Colliers Indonesia, Kamis (27/8/2026).

Sementara retailer sebagai tenant pusat perbelanjaan, perlu memilih lokasi mal yang tidak hanya strategis, tapi juga sesuai dengan target konsumen masing-masing, memiliki potensi produktivitas yang baik, dan mampu mendukung pertumbuhan permintaan di masa depan.

Baca juga: Tren Pusat Belanja, Makin Mengarah ke Retailtainment

Poin-poin penting yang perlu menjadi perhatian pemilik pusat perbelanjaan dan retailer menurut Colliers adalah:

Pertama, pasar ritel Jakarta memasuki fase baru, dengan daya saing yang makin ditentukan oleh evolusi aset, relevansi tenant, dan pengalaman pelanggan.

Kedua, retailer makin selektif dalam memilih lokasi ekspansi yang dapat mendukung produktivitas penjualan dan positioning merek.

Ketiga, pemilik pusat perbelanjaan perlu fokus pada repositioning berkelanjutan, kurasi tenant yang proaktif, dan konsep berbasis pengalaman.

Keempat, data yang terstruktur dengan baik menjadi penting dalam mendukung pengembangan bisnis ritel, penempatan tenant, dan strategi aset jangka panjang.

Baca juga: Cushman: Okupansi Sedikit Turun, Tapi Brand Global Tetap Ramai Masuk ke Mal-Mal di Jakarta

Sander menjelaskan, meskipun prospek pemulihan sektor ritel tetap positif, secara umum perbaikan pasar masih berlangsung secara bertahap.

Berdasarkan temuan dan analisis tim Research Colliers Indonesia, ruang kosong pada kuartal kedua 2026 paling banyak terdapat di wilayah Jakarta Selatan di luar pusat bisnis (CBD), dengan estimasi sekitar 21 persen, diikuti wilayah Jakarta Utara sekitar 20 persen. Hal ini menunjukkan, pemulihan belum merata di berbagai lokasi dan kelas pusat perbelanjaan.

Di tengah kondisi tersebut, kurasi tenant menjadi salah satu faktor pembeda yang makin penting. Pemilik pusat perbelanjaan perlu menghadirkan kombinasi tenant yang seimbang. Mulai dari anchor tenant, brand internasional dan lokal yang sedang berkembang, layanan pendukung, konsep berbasis pengalaman, hingga tenant pendukung yang dapat bekerja sama dalam memperkuat pengalaman pengunjung di pusat perbelanjaan.

Data dan wawasan konsumen memainkan peran yang makin penting dalam strategi tenant mix. Guna memahami kebutuhan konsumen dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat, pemilik pusat perbelanjaan dapat menggunakan data seperti, data kunjungan pengunjung, profil konsumen, perilaku belanja konsumen, dan kinerja penjualan tenant

Baca juga: Opini: Gerak Mal dari Pusat Belanja ke Lifestyle

Kurasi tenant bukan lagi sekadar tentang mengisi ruang di pusat perbelanjaan, tapi bagaimana menciptakan ekosistem ritel yang terhubung, yang mendukung segmen pelanggan yang dituju, memperkuat identitas pusat perbelanjaan, dan memberikan alasan yang jelas bagi pengunjung untuk kembali.

Seiring terus berkembangnya ekspektasi konsumen, pusat perbelanjaan yang mampu menggabungkan aksesibilitas, tenant yang relevan, kenyamanan, pengalaman gaya hidup, dan perencanaan berbasis data, akan berada pada posisi yang lebih baik untuk mempertahankan daya saing jangka panjang di pasar ritel Jakarta.