Juli Deposito dan Tabungan Valas Masih Tumbuh Tinggi
Laporan uang beredar Bank Indonesia (BI) yang dirilis akhir pekan lalu mengungkapkan, pada Juli 2026 dana pihak ketiga (DPK) atau simpanan masyarakat di perbankan mencapai Rp9.666,9 triliun, tumbuh 7,7 persen secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan Juni 2027 yang tumbuh 8,1 persen (yoy).
Perkembangan tersebut terutama didorong oleh merosotnya pertumbuhan deposito sebesar 4,8 persen (yoy), dari 6,2 persen (yoy) pada Juni 2026. Sementara giro naik 10,5 persen (yoy) dari 10,2 persen (yoy) pada Juni 2026, dan tabungan stabil di level 8,2 persen (yoy).
Baca juga: Rupiah Terus Melemah, Warga RI Kian Getol Timbun Dolar, Deposito Valas Melesat
Berdasarkan valuta, baik DPK dalam rupiah maupun valuta asing (valas) tumbuh menurun. DPK rupiah senilai Rp8.084,1 triliun pada Juli 2026, tumbuh 5,9 persen (yoy) dibanding 6,3 persen (yoy) pada Juni 2026. DPK valas senilai Rp1.582,7 triliun demikian juga, tumbuh 17,9 persen (ypy) lebih rendah dibanding Juni 2026 sebesar 18,5 persen.
Kendati demikian, DPK valas masih tumbuh sangat tinggi pada Juli 2026. Melanjutkan pertumbuhan tingi pada beberapa bulan sebelumnya. Tabungan valas senilai Rp262,2 triliun pada Juli 2026, bahkan kembali naik lebih tinggi menjadi 28,9 persen (yoy) dibanding Juni 2026 sebesar 27,5 persen (yoy) dan Mei 2026 sebesar 29,9 persen (yoy).
Sementara deposito valas senilai Rp494,1 triliun masih tumbuh tinggi sebesar 38,7 persen (yoy), dibanding 42 persen (yoy) pada Juni 2026, dan 27,9 persen (yoy) pada Mei 2026 .
Baca juga: Bunga Deposito Meningkat, Tapi Penghimpunan Dana Masyarakat oleh Perbankan Menurun
Sedangkan giro valas senilai Rp826,4 triliun tumbuh 5,6 persen (yoy), sedikit menurun dibanding Juni 2026 sebesar 6 persen (yoy) dan 10,2 persen (yoy) pada Mei 2026. Sebelum Mei 2026, pertumnuhan tabungan, deposito, dan giro valas hanya berkisar di bawah 10 persen.
Tetap tingginya DPK valas itu terutama disumbang oleh korporasi, sebagai antisipasi terhadap kemungkinan makin memburuknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) di tengah gejolak eksternal yang masih tinggi.