Kredit Konsumsi Termasuk KPR Belum Juga Berlari
Penyaluran kredit konsumsi belum juga membaik dalam 7 bulan terakhir, yang menunjukkan masih lemahnya daya beli, dan atau konsumen menahan belanja karena ketidakpastian ekonomi yang tinggi.
Bank Indonesia melaporkan akhir pekan lalu, kredit konsumsi (KK) pada Juli 2026 hanya tumbuh 5,3 persen secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan Juni 2026 sebesar 5,7 persen (yoy).
Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) dan kredit multiguna yang tumbuh masing -masing 4,3 persen (yoy) dan 7,6 persen (yoy), lebih rendah dibanding Juni 2026 sebesar 4,4 persen (yoy) dan 8,3 persen (yoy). Sementara kredit kendaraan bermotor masih terkontraksi (minus) 10,0 persen (yoy).
Khusus KPR/KPA, sejak akhir 2025 penyalurannya terus menurun. Kalau pada November 2025 masih tumbuh 6,9 persen (yoy), Desember 2025 turun menjadi 6,8 persen, kemudian 5,5 persen (Januari 2026), 5 persen (Februari 2026), dan 4,5 persen (Maret 2026).
Pada April 2026 pertumbuhan KPR/KPA sempat naik menjadi 4,8 persen, tapi kemudian turun lagi menjadi 4,7 persen pada Mei 2026, dan 4,4 persen pada Juni 2026, sebelum menjadi 4,3 persen pada Juli 2026 seperti sudah disinggung di atas.
Baca juga: Kredit Investasi dan Modal Kerja Terus Melaju, Kredit Konsumsi Kian Lesu
Secara keseluruhan, penyaluran kredit properti pada Juli 2026 tumbuh tinggi sebesar 18,4 persen (yoy), meningkat dibandingkan Juni sebesar 17,6 persen (yoy).
Namun, peningkatan kredit properti itu ditopang pertumbuhan kredit konstruksi dan real estate, bukan KPR/KPA. Kredit konstruksi tumbuh 49,7 persen (yoy) dan kredit real estat 16,0 persen pada Juli 2026, meningkat dibanding Juni sebesar 47,1 persen (yoy) dan 14,0 persen (yoy).
Pertumbuhan kredit konstruksi dan real estate yang tinggi menunjukkan, developer fokus menuntaskan proyek berjalan sebelum tutup tahun, agar pemasarannya bisa memanfaatkan insentif free PPN 100 persen, selain mempersiapkan pengembangan proyek baru.