Realisasi FLPP Baru 131.000 Unit, Tapera Gencarkan Sosialisasi Termasuk Gelar Bazaar
Komisioner Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) Heru Pudyo Nugroho mengungkapkan, sampai 18 Agustus 2026, realisasi penyaluran KPR subsidi FLPP (Fasilitas Likuidits Pembiayaan Perumahan) baru mencapai 131.516 unit senilai Rp16,36 triliun, dari target tahun ini sebesar 350.000 unit.
“Jadi, masih terdapat ruang yang luas bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang memenuhi persyaratan untuk memanfaatkan program pembiayaan rumah pertama ini,” kata Heru saat menghadiri Bazar Pesona Merdeka 2026 yang diselenggarakan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Rabu 919/8/2026), sebagaimana dikutip keterangan tertulis BP Tapera. Hadir pada kesempatan itu Menteri PKP Maruarar Sirait (Ara).
Bazaar digelar sebagai salah satu upaya edukasi dan sosialisasi mengenai KPR subsidi kepada kalangan muda, selain menghadirkan booth pelaku UMKM. Sebelumnya sosialisasi dan edukasi gencar dilakukan BP Tapera di berbagai lokasi dan kepada aneka segmen masyarakat, untuk menggenjot realisasi penyaluran KPR FLPP. BP tapera adalah institusi yang ditunjuk pemerintah mengelola dana bergulir (investasi) FLPP.
Baca juga: BP Tapera Minta Kepala Daerah Dorong BPD Salurkan KPR FLPP, Per 30 Juni Realisasi 91.531 Unit
Saat ini Jawa Barat masih menjadi provinsi dengan realisasi FLPP terbesar, mencapai 31.229 unit atau 23,75 persen dari total penyaluran, dengan nilai pembiayaan sekitar Rp3,93 triliun.
“Program pembiayaan perumahan harus makin dekat dengan masyarakat. Kami akan terus memperluas edukasi dan sosialisasi, agar MBR memahami persyaratan, manfaat, serta proses pengajuan KPR FLPP, sehingga (dengan KPR FLPP) yang memenuhi ketentuan dapat memanfaatkan kesempatan memiliki rumah pertama,” jelas Heru.
Baca juga: Ini Tantangan Penyaluran FLPP dan Upaya Mencapai Targetnya Tahun Ini
Tercatat 89 orang mendaftar dalam acara itu untuk memperoleh informasi dan akses pembiayaan perumahan subsidi dengan KPR FLPP. Peserta berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan dan usaha, menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap hunian pertama sekaligus akses pembiayaannya makin beragam.
“Dari kegiatan ini kami melihat antusiasme masyarakat cukup tinggi. Ini menunjukkan, kebutuhan terhadap rumah pertama masih sangat besar, termasuk dari kalangan pelaku usaha dan pekerja yang selama ini mungkin belum memahami bagaimana cara mengakses pembiayaan perumahan subsidi,” pungkas Heru.