Colliers: Pengembang Apartemen Fokus Optimalisasi Stok, Bukan Ekspansi
Colliers Indonesia menyebut, pasar properti tengah memasuki babak baru dengan ciri utama kualitas yang menjadi faktor menentukan dibandingkan kuantitas. Di hampir seluruh sektor, persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh ekspansi maupun harga tetapi juga oleh kualitas aset, efisiensi operasional, pengalaman pengguna, serta kemampuan memenuhi tuntutan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Karena itu menurut Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, pelaku industri kini mulai mengalihkan fokus dari pembangunan baru ke optimalisasi aset yang sudah dimiliki dengan strategi yang ditempuh tidak lagi sekadar menambah pasokan tetapi lebih diarahkan pada renovasi, reposisi aset, peningkatan kualitas bangunan, serta pemanfaatan inventori yang tersedia secara lebih optimal.
“Tentunya pergeseran ini mencerminkan pasar yang makin selektif, disiplin, dan berorientasi pada strategi jangka panjang, dan kondisi ini terjadi di hampir seluruh sektor sehingga model bisnis juga mengalami perubahan mendasar, tidak lagi bertumpu pada volume transaksi tapi kemampuan menciptakan nilai jangka panjang,” ujarnya kepada kalangan media beberapa waktu lalu.
Untuk sektor apartemen misalnya, saat ini kondisi segmen strata-title di Jakarta memasuki fase yang lebih disiplin. Di tengah suku bunga yang masih tinggi dan sikap pembeli yang cenderung lebih berhati-hati, pengembang kini lebih memprioritaskan optimalisasi inventori dibandingkan ekspansi agresif.
Maka alih-alih mempercepat peluncuran proyek baru, pengembang lebih mengarahkan pada penjualan unit siap huni (ready stock). Strategi ini akhirnya dapat membantu menjaga stabilitas pasar karena pasokan baru tetap terbatas sementara insentif pembebasan pajak (PPN DTP) untuk unit yang telah selesai dibangun terus mendorong aktivitas transaksi.
Baca juga: Apartemen: Pasar Masih Payah, Perang Pula di Timur Tengah
Pada akhirnya dampak lainnya komposisi pembeli mulai mengalami pergeseran. Ferry menyebut kesenjangan antara investor dan pembeli yang membeli untuk dihuni sendiri (owner-occupier) semakin mengecil terutama di segmen menengah.
Di segmen ini, keterjangkauan harga, kesiapan unit untuk langsung ditempati, serta kemudahan memperoleh pembiayaan menjadi pertimbangan utama dalam keputusan pembelian.
Sementara itu, kalangan pengembang tetap menjaga stabilitas harga dengan menawarkan berbagai insentif promosi dan skema pembayaran yang lebih fleksibel, alih-alih melakukan strategi diskon atau penurunan harga secara langsung.
Baca juga: 2.400 Konsumen LRT City Belum Terima Unit Apartemen Sesuai Janji
Ke depan, pengembang sebaiknya tetap memprioritaskan penjualan inventori yang tersedia sebelum memperluas pasokan baru. Peluncuran proyek baru perlu dilakukan secara lebih selektif yang didukung oleh tingkat pra-penjualan yang kuat dan permintaan end-user yang jelas.
Di sisi investasi, unit studio di lokasi strategis masih menjadi produk dengan tingkat likuiditas paling tinggi. Sementara itu, stabilitas harga dan berbagai insentif dari pemerintah menciptakan momentum yang semakin menarik bagi pembeli end-user.
“Pengembang yang mampu menyesuaikan produknya dengan perubahan preferensi pembeli seperti ini sekaligus menerapkan strategi menjaga disiplin harga, akan memiliki kinerja yang lebih baik pada fase pasar berikutnya,” pungkas Ferry.