Selasa, September 15, 2026
HomeMoneterUtang Luar Negeri RI Terus Meningkat, Disumbang Utang Pemerintah dan BI, Utang...

Utang Luar Negeri RI Terus Meningkat, Disumbang Utang Pemerintah dan BI, Utang Swasta Masih Terkontraksi

Bank Indonesia (BI) melaporkan, Selasa (15/9/2026), utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2026 relatif stabil, mencapai USD454,8 miliar (sekitar Rp3.843 triliun dengan kurs Rp17.600) dibanding USD454,5 miliar pada Juni 2026.

Secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh 4,9 persen (yoy), dipengaruhi oleh peningkatan ULN publik (pemerintah dan Bank Indonesia) di tengah penurunan ULN swasta.

ULN pemerintah pada Juli 2026 tercatat sebesar USD218,4 miliar, atau tumbuh 3,2 persen (yoy). Terutama dipengaruhi oleh aliran masuk dana asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Pemerintah disebut BI tetap berkomitmen menjaga kredibilitas, dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah), administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,7 persen%), jasa pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,5 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).

“Posisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali, mengingat hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang,” tulis laporan BI melalui Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso itu.

Baca juga: Q2 Utang Luar Negeri (ULN) Pemerintah dan BI Terus Menanjak​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​, Swasta Belum Juga Berani Tambah ULN

ULN swasta masih terus menurun
Sementara itu, ULN swasta pada Juli 2026 tercatat sebesar USD194,5 miliar, atau masih tumbuh negatif alias terkontraksi (minus) sebesar 1,2 persen(yoy).

Perkembangan tersebut didorong oleh ULN kelompok peminjam bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) dan lembaga keuangan (financial corporations), yang masing-masing mengalami kontraksi 1,4 persen (yoy) dan 0,3 persen (yoy).

Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta terutama berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 80,6 persen dari total ULN swasta. ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang.

Sementara sisanya sebesar USD41,9 miliar (USD454,8 miliar-(USD218,4 miliar+194,5 miliar)) merupakan ULN BI. Laporan Bi menjelaskan, struktur ULN Indonesia tetap sehat. Didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 30,7 persen pada Juli 2026, dan didominasi ULN jangka panjang.

“Guna menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangannya,” pungkas laporan BI.

Berita Terkait

Ekonomi

Konsumen Tingkatkan Belanja, Kurangi Tabungan. Akankah Berlanjut?

Survei Konsumen Bank Indonesia yang dilansir pekan lalu mengungkapkan,...

Menkeu Suahasil: Pesan Presiden, APBN Harus Mampu Biayai Program Prioritas Pemerintah

Suahasil Nazara resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai menteri...

Lulusan Pascasarjana Pesimis dengan Lapangan Kerja, Sarjana Kurang Yakin

Survei Konsumen Bank Indonesia yang dilansir pekan ini mengungkapkan,...

Berita Terkini