Komisioner Tapera: Nggak Perlu Nunggu Gaji Besar untuk Beli Rumah Pertama
Warung milik Rosmini, seorang pedagang sembako di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pernah roboh diterjang angin puting beliung. Sempat terpikir untuk berhenti, Rosmini memilih bangkit dan kembali berjualan.
Dari berjualan nasi, ia mengembangkan usahanya dengan juga menjual gorengan, makanan ringan hingga kebutuhan sehari-hari.
Kini, bukan hanya usahanya yang kembali berdiri. Rosmini juga telah memiliki rumah sendiri di Perumahan Puri Delta 12 City Side, Batang, melalui KPR subsidi dengan skim Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang disalurkan BP Tapera.
“Warung saya pernah roboh, tapi semangat jangan sampai ikut roboh. Sampai akhirnya saya diberitahu saudara bahwa melalui BP Tapera kami bisa punya rumah sendiri. Sekarang warung ini juga ikut pindah ke rumah (subsidi yang saya beli),” kata Rosmini, dikutip dari keterangan BP Tapera akhir pekan ini.
Kisah Rosmini memberikan gambaran, orang tidak harus menunggu sampai punya penghasilan besar untuk bisa memiliki rumah pertama (bersubsidi).
Melalui program FLPP yang dijalankan BP Tapera, pemerintah memberikan dukungan pembiayaan berbunga murah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk bisa memiliki rumah yang layak dan terjangkau.
Baca juga: Realisasi Baru 38 Persen, Tapera dan Kementerian PKP Kian Gencar Sosialisasi FLPP
Untuk itu MBR tinggal mendatangi bank penyalur KPR FLPP yang sudah bekerja sama dengan BP Tapera, seperti bank-bank BUMN (BTN, BSN, Mandiri, BRI, BNI, BSI) dan puluhan bank swasta dan BPD, untuk mengetahui syarat dan ketentuan mendapatkan KPR FLPP untuk membeli rumah pertama.
Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho mengajak MBR yang belum memiliki rumah, termasuk generasi muda yang telah memenuhi persyaratan, untuk memanfaatkan kesempatan pemilikan rumah pertama melalui Program FLPP.
“Kami mengajak masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan Program FLPP. Berdasarkan realisasi sementara hingga 4 September 2026, penerima manfaat FLPP tertinggi adalah kelompok usia 19–25 tahun atau generasi Z. Ini menunjukkan, generasi muda mulai memiliki kesadaran dan keberanian untuk merencanakan kepemilikan rumah sejak dini. Jadi, nggak usah menunggu sampai punya penghasilan besar untuk memiliki rumah pertama. Yang penting memahami kemampuan, memenuhi persyaratan, dan berani mengambil langkah pertama,” tutur Heru dikutip dari keterangan BP Tapera akhir pekan ini.
Ia menambahkan, rumah pertama bukan sekadar bangunan tempat tinggal, tapi bagian penting dari perjalanan seseorang dalam membangun kehidupan yang lebih baik bersama keluarga.
“Rumah pertama bukan tentang seberapa besar penghasilanmu. Tapi tentang keberanian mengambil langkah pertama untuk masa depan. Setiap orang memiliki perjalanan dan kemampuan berbeda, tapi kesempatan memiliki rumah dapat dimulai ketika kita berani mengambil langkah dan memanfaatkan kesempatan yang ada,” jelas Heru.
Baca juga: KPR Subsidi 40 Tahun Hanya untuk Pembeli Rumah Pertama. BP Tapera Percepat Implementasi
Tahun ini pemerintah menyediakan kuota KPR FLPP untuk 350.000 unit rumah subsidi. Hingga 4 September 2026, realisasi penyaluran FLPP periode 1 Januari–3 September 2026 baru mencapai 144.691 unit senilai Rp17,99 triliun.
“Jadi, masih terbuka kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mendapatkan rumah pertama melalui program FLPP. Jadi, mulailah mencari informasi, mempertimbangkan kemampuan finansial, dan mengambil peluang pemilikan rumah melalui KPR FLPP,” kata Komisioner Heru.
Menurut Heru, dari pedagang sembako seperti Rosmini, tukang becak, ustaz, pedagang cilok, satpam, asisten rumah tangga, hingga pekerja belia berusia 19–25 tahun, yang berhasil punya rumah pertama dengan memanfaatkan KPR FLPP terungkap, impian memiliki rumah dapat diwujudkan ketika ada kemauan untuk berusaha dan keberanian mengambil kesempatan.