Agustus Inflasi Kembali Meninggi, Dipicu Kenaikan Harga Bahan Makanan Termasuk Beras
Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Ateng Hartono melaporkan, Selasa (1/9/2026), inflasi Agustus 2026 mencapai 0,21 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Inflasi bulanan itu naik tinggi dibanding Juli 2026 yang mencatat deflasi (penurunan) sebesar 0,14 persen (mtm), dibanding Juni 2026 yang mengalami inflasi 0,44 persen (mtm).
Inflasi Agustus 2026 didorong kenaikan harga bahan makanan minuman dan tembakau dengan andil inflasi sebesar 0,17 persen. Bahan makanan penyumbang inflasi itu terutama daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar dan beras. Ditambah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama emas perhiasan.
Sementara secara tahunan (yoy), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) juga kembali meningkat menjadi 3,19 persen (yoy), dibanding Juli 2026 sebesar 2,88 persen (yoy) dan Juni 2026 sebesar 3,34 persen (yoy).
Penyumbang inflasi tahunan pada Agustus 2026 itu juga bahan pangan bergejolak (volatile food) seperti daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng dan beras, ditambah emas perhiasan dan bensin, serta tarif angkutan udara dan oli mesin.
Baca juga: Juli Inflasi Tahunan Melandai, Secara Bulanan Deflasi
Inflasi inti, inflasi kelompok barang dan jasa di luar volatile food dan harga barang dan jasa yang dikontrol pemerintah (administered price), juga meningkat menjadi 2,92 persen (yoy) pada Agustus 2026, dibanding 2,17 persen (yoy) pada Agustus 2025, dan 2,76 persen (yoy) pada Juli 2026.
Sementara secara bulanan (mtm), inflasi kelompok inti pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,21 persen (mtm), juga lebih tinggi dari realisasi Juli 2026 sebesar 0,14 persen (mtm).
Penyumbangnya, seperti sudah disinggung di atas, adalah emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, pelumas atau oli mesin, hingga laptop atau notebook.
Secara keseluruhan, inflasi volatile food dan adminsitered price pada Agustus 2026 mencapai 4,06 persen (yoy) dan 3,32 persen (yoy).
Untuk volatile food, inflasinya lebih rendah dibanding Agustus 2025 yang tercatat sebesar 4,47 persen (yoy), namun jauh lebih tinggi dibanding Juli 2026 sebesar 2,52 persen (yoy).
Begitu juga secara bulanan (mtm), kelompok volatile food pada Agustus 2026 mengalami inflasi 0,88 persen (mtm), jauh lebih tinggi dibandingkan Juli 2026 yang mencatat deflasi 1,68 persen (mtm).
Baca juga: BBM Naik, Rupiah Melemah, Inflasi Juni Makin Tinggi
Sedangkan inflasi administered price, meningkat jauh lebih tinggi dibanding Agustus 2025 yang hanya 1 persen (yoy), namun sedikit lebih rendah dibanding Juli 2026 sebesar 3,58 persen (yoy).
Begitu pula secara bulanan (mtm), kelompok administered prices mencatat deflasi (penurunan) menjadi 0,33 persen (mtm) pada Agustus 2026, dibanding Juli 2026 sebesar 0,25 persen (mtm).
Deflasi kelompok administered prices terutama disumbang penurunan tarif angkutan udara dan bensin, seiring penurunan harga avtur dan BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo.
Kendati kembali meninggi, Bank Indonesia menilai inflasi Agustus 2026 itu masih terjaga di kisaran sasaran 2,5±1 persen. Ke depan, BI memperkirakan inflasi volatile food tetap terkendali di kisaran sasaran, didukung sinergi erat pengendalian inflasi oleh BI bersama pemerintah pusat dan daerah.