Rupiah Melemah, Tapi Fortress Tetap Pede Buka Pabrik Pintu Baja
Ketidakpastian global yang masih tinggi akibat konflik geopolitik dan kebijakan proteksi negara besar seperti Amerika Serikat (AS), membuat harga minyak dunia melambung, rantai pasok terganggu, harga barang meningkat, dan nilai tukar mata uang banyak negara melemah termasuk rupiah (Indonesia).
Kendati demikian, PT Jaya Bersama Saputra (JBS) Perkasa, produsen pintu baja Fortress, tetap percaya diri (pede) membuka pabrik sendiri di Tangerang, Banten. Joni Effendi, pendiri dan CEO JBS Perkasa, mengajak awak media melihat pabrik pertama Fortress tersebut, Selasa (1/9/2026).
Ia memberikan penjelasan mengenai pabrik itu didampingi Vice President of People & Culture JBS Perkasa Sylvia Tina, National Sales Director Hens Sumarauw, Human Resources Capital Manager Mike J Latuwael, dan Marketing Communications & Brand Strategist Fanny Tanuraharja.
Berlokasi di Curug Kulon, Pabuaran, Tangerang (Banten), pabrik pertama Fortress itu menempati lahan seluas 10.700 m2 dengan luas bangunan sekitar 8.000 m2. Total JBS Perkasa menghabiskan Rp50 miliar untuk pembangunan pabrik pada tahap awal.
Pabrik ditargetkan memproduksi 200 unit pintu per 8 jam produksi (1 shift), atau 600 pintu dalam 3 shift setiap hari kerja. Total setiap bulan JBS Perkasa menargetkan bisa memproduksi sekitar 15.000 pintu.
Selama ini JBS perkasa mengimpor utuh produk pintu bajanya dari Tiongkok. Setelah pabrik di Curug Kulon, Pabuaran, Tangerang, itu beroperasi penuh awal 2027, impor bahan baku pintu baja itu untuk sementara masih diteruskan, karena sudah disertai free finishing (coating) motif kayu.
“Kita masih mencari di dalam negeri plat baja yang disertai finishing seperti itu sebagai substitusi, tapi belum ketemu,” kata Joni.
Baca juga: Akhirnya Joni “Pintu Baja Fortress” Membuka Pabrik Pertamanya di Tangerang
Pria yang mengawali bisnis pintu baja dari sebuah bengkel las untuk pintu besi di Tangerang ini, mengakui secara bisnis mengimpor utuh produk pintu baja, kemudian dipasarkan di dalam negeri, lebih aman ketimbang memproduksinya sendiri di Indonesia.
“Tapi, ini bagian dari perjalanan bisnis. Setelah bengkel las, lalu impor, sekarang saatnya JBS Perkasa memulai proses manufakturing sendiri di Indonesia,” ujar Joni.
Ia membenarkan, pelemahan nilai tukar rupiah membuat harga bahan baku yang masih sepenuhnya impor itu menjadi lebih tinggi. Tapi, ia menilai hal itu sebagai tantangan yang harus dihadapi pelaku industri.
“Kita akan mengatasinya melalui efisiensi produksi dan peningkatan pemasaran, tidak dengan menaikkan harga jual. Sementara mungkin kita mengurangi margin dulu. Kalau nanti volume produksi sudah mencapai sekitar 15.000 pintu per bulan, harga Fortress akan menyamai harga yang berlaku saat ini,” terang Joni.
Selain itu, ia tetap optimis membuka pabrik sendiri dalam situasi seperti saat ini, karena kebutuhan rumah di Indonesia masih tinggi, terlebih rumah menengah ke bawah termasuk yang bersubsidi.
JBS Perkasa melihat peluang besar menawarkan material yang lebih aman, tahan lama, sekaligus lebih ramah lingkungan ke pasar, dibandingkan material konvensional berbahan kayu.
“Program pembangunan perumahan menjadi momentum penting memperkenalkan solusi pintu yang lebih modern dan berkelanjutan. Kami ingin mendorong penggunaan material yang memberikan perlindungan lebih baik, sekaligus mendukung pelestarian lingkungan,” kata Joni.
Karena itu pula, pada tahap awal produksi pabrik difokuskan pada produk Fortress tipe ekonomis seharga di bawah Rp2 jutaan, termasuk untuk rumah subsidi seharga di bawah Rp1 juta per unit. “Harga pintu baja Fotress di bawah Rp1 juta untuk rumah subsidi itu, berlaku sama di selueuh Indonesia,” ungkap Joni.
Baca juga: Fortress Sudah Pasok 10.000 Pintu Baja untuk Program 3 Juta Rumah
Fortress sendiri selama ini sudah melayani semua segmen pasar. Mulai dari menengah bawah, menengah, sampai atas. Untuk rumah menengah bawah misalnya, Fortress menawarkan pintu ekonomis seperti tipe Legion seharga Rp1 juta per set komplit, tinggal pasang.
Untuk segmen menengah, tersedia antara lain tipe Signature dengan motif lebih bervariasi, seharga Rp3 juta sampai Rp7 juta per set. Sementara untuk segmen atas sampai mewah, Fortress melansir tipe Olympus dan Dynasti yang mewah dan berkelas, seharga Rp11 juta sampai Rp50 juta.
Selain variasi motif, warna, dan ukuran, yang membedakan setiap segmen produk adalah ketebalan bajanya. Untuk segmen menengah bawah termasuk pintu untuk rumah subsidi, ketebalan plat bajanya 0,3 mm. Untuk segmen menengah 1-1,5 mm, dan segmen atas 2 mm.