Selasa, September 1, 2026
HomeBahan BangunanAkhirnya Joni "Pintu Baja Fortress" Membuka Pabrik Pertamanya di Tangerang

Akhirnya Joni “Pintu Baja Fortress” Membuka Pabrik Pertamanya di Tangerang

Joni Effendi, pendiri dan CEO PT Jaya Bersama Saputra (JBS) Perkasa, produsen pintu baja Fortress, mengawali bisnisnya setelah lulus dari SMA dari sebuah bengkel las di Tangerang, Banten, pada 2003, dengan modal awal sekitar Rp80 juta.

Bengkelnya fokus memproduksi pintu besi las konvensional untuk ruko, seperti folding gate. Seiring berjalannya waktu, Joni meningkatkan bisnisnya dengan memasarkan pintu baja utuh dengan tekstur serupa kayu dalam berbagai motif yang estetis, dengan merek Fortress.

Supaya makin dikenal dan bisa diterima pasar, Joni membuka cabang di banyak kota. Sampai saat ini Fortress sudah memiliki cabang di 17 kota di seluruh Indonesia termasuk di Jabodetabek.

Setelah berjalan lebih dari 15 tahun dan Fortress makin diterima pasar, baik perorangan maupun korporasi dan pemerintahan, Joni mulai berpikir membuka pabrik sendiri untuk memproduksi Fortress, tidak lagi mengimpornya dari Tiongkok seperti selama ini.

Tujuannya supaya Fortress bisa melayani semua segmen pasar, termasuk pasar rumah subsidi. Selain itu dengan punya pabrik sendiri, JBS Perkasa bisa mengeksplorasi keragaman produknya, tidak hanya pintu, dan bisa lebih leluasa melayani permintaan produk customized.

“Fokus kita B to A, business to all, bukan hanya B to C (konsumen akhir atau perorangan), B to B (pasar korporasi atau institusi), dan B to G (proyek pemerintahan),” kata Joni.

Baca juga: Punya Pabrik Sendiri, Fortress Bakal Produksi Pintu Baja untuk Rumah Subsidi

Tadinya pembukaan pabrik Fotress ttu ditargetkan tahun 2020. Tapi, pandemi Covid-19 menghalangi rencana tersebut. Namun, Agustus 2026, Joni akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya dan mengajak awak media mengunjungi pabrik Fortress itu, Selasa (1/9/2026).

Joni memberikan penjelasan mengenai pabriknya didampingi Vice President of People & Culture JBS Perkasa Sylvia Tina, National Sales Director Hens Sumarauw, Human Resources Capital Manager Mike J Latuwael, dan Marketing Communications & Brand Strategist Fanny Tanuraharja.

Berlokasi di Curug Kulon, Pabuaran, Tangerang (Banten), pabrik Fortress menempati lahan seluas 10.700 m2 dengan luas bangunan sekitar 8.000 m2. JBS Perkasa mengeluarkan investasi Rp50 miliar untuk pembangunan pabrik pada tahap pertama.

Pabrik ditargetkan memproduksi 200 unit pintu per 8 jam produksi (1 shift), atau 600 pintu dalam 3 shift setiap hari kerja. “Total setiap bulan kita menargetkan bisa memproduksi sekitar 15.000 pintu,” kata Joni.

Baca juga: Rayakan Ultah ke-22, Fortress Buka Cabang ke-17 di Sorong

Pada tahap awal, produksi difokuskan pada pintu Fortress tipe ekonomis seharga di bawah Rp2 juta, termasuk pintu baja untuk rumah subsidi seharga di bawah Rp1 juta per unit.

“Bahan baku pintu untuk sementara masih diimpor dari Tionglok, karena impornya disertai free coating (finishing) untuk berbagai motif urat kayu. Kita belum menemukan di dalam negeri bahan baku plat baja yang disertai finishing seperti itu sebagai substitusi,” jelas Joni.

Pabrik ditargetkan beroperasi penuh awal 2027. Saat ini mesin-mesin dan berbagai peralatan pendukungnya, dalam proses pengiriman dari Tiongkok, yang setelah tiba akan dilanjutkan dengan pemasangan dan uji coba, plus pelatihan bagi awak JBS Perkasa agar bisa mengoperasikan dan merawatnya.

Berita Terkait

Ekonomi

Transaksi Harbolnas 2026 Ditargetkan Rp40 Triliun, Terutama dari Penjualan Produk UMKM

Pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem ekonomi digital nasional sebagai...

Walhi: Pembangunan Tidak Boleh Merampas Hak Alam dan Ruang Hidup

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyelenggarakan diskusi bertajuk “Keadilan Ekologis,...

Menkeu: RAPBN 2027 untuk Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pokok-pokok Rancangan...

Wakaf Saham Istiqlal Bukan IPO, Begini Penjelasannya

Pada akhir tahun lalu Masjid Istiqlal meluncurkan gerakan “Yuk...

Berita Terkini