BBM Naik, Rupiah Melemah, Inflasi Juni Makin Tinggi
Kenaikan harga BBM non subsidi dan pelemahan rupiah, yang membuat biaya transportasi dan logistik serta harga impor meningkat, membuat inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa makin tinggi.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Rabu (1/7/2026), laju inflasi pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan atau month to month (mtm), lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 sebesar 0,28 persen (mtm).
Secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen, lebih tinggi dibanding Mei sebesar 3,08 persen. Begitu pula inflasi tahun kalender atau year to date (ytd), tercatat sebesar 1,79 persen atau lebih tinggi dibanding Mei sebesar 1,35 persen.
Juga meningkat, inflasi kelompok inti (di luar bahan makanan dan barang yang harganya dikontrol pemerintah). Secara bulanan pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,23 persen (mtm) dibanding Mei 0,22 persen (mtm). Dipengaruhi terutama oleh tingginya harga komoditas global.
Secaara tahunan, inflasi inti pada Juni 2026 juga naik menjadi 2,76 persen (yoy), dibandingkan Mei sebesar 2,59 persen (yoy).
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, kenaikan inflasi Juni 2026 terutama didorong oleh kelompok transportasi, yang mengalami inflasi 2,29 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,28 persen.
“Pemicu inflasi kelompok transportasi pada Juni 2026 adalah kenaikan harga bensin (BBM), tarif angkutan udara, serta pelumas atau oli mesin. Bensin mengalami inflasi seiring kenaikan harga BBM nonsubsidi pada 1 Juni dan 10 Juni,” kata Ateng dalam konferensi pers.
Baca juga: Mei Inflasi Meningkat Tinggi
Selain transportasi, juga mencatat inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,20 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,06 persen.
Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, adalah bawang merah dengan andil 0,04 persen, bawang putih 0,03 persen, serta beras 0,02 persen.
Khusus bawang putih, kenaikan harganya tidak hanya dipengaruhi oleh peningkatan biaya distribusi karena kenaikan harga bensin, tapi juga karena naiknya harga impor menyusul pelemahan rupiah yang signifikan sejak mei 2026.
Praktis hampir seluruh kebutuhan bawang putih Indonesia diimpor. “Peningkatan biaya angkutan barang di tingkat global (karena gejolak geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia), memberikan tekanan terhadap harga bawang putih,” ujar Ateng.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, juga memicu imported inflation yang mendorong kenaikan harga komoditas impor seperti bawang putih.
Kendati demikian, inflasi kelompok volatile food (bahan makanan) pada Juni 2026 sebesar 0,14 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan Mei sebesar 0,22 persen (mtm).
Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food pada Juni 2026 juga turun menjadi 5,58 persen (yoy), dibanding Mei 2026 sebesar 6,24 persen (yoy).
Baca juga: Tekanan Global, OECD: Ekonomi RI 2026 Hanya Akan Tumbuh 4,8 Persen, Inflasi 3,4 Persen
Tak terkecuali kelompok administered prices (barang dan jasa yang harganya dikontrol pemerintah), mengalami inflasi lebih tinggi.
Pada Juni 2026 mencapai 1,41 persen secara bulanan (mtm), jauh lebih tinggi dibandingkan Mei sebesar 0,52 persen (mtm).
Terutama dipicu kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara, seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan avtur akibat tingginya harga energi global. Secara tahunan, kelompok administered prices juga mencatat inflasi yang jauh lebih tinggi sebesar 3,42 persen (yoy), dibandingkan Mei sebesar 2,07 persen (yoy).
Merespon laporan BPS, Bank Indonesia menyatakan inflasi Juni 2026 secara umum masih terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%.
“Inflasi yang tetap terjaga di kisaran sasaran itu, merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah. Ke depan, BI meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran,” tulis keterangan BI pada hari yang sama.