Mei Inflasi Meningkat Tinggi
Seperti sudah diperkirakan banyak pengamat menyusul gejolak geopolitik yang melambungkan harga minyak dunia, yang diikuti pelemahan nilai tukar rupiah, pada Mei 2026 inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa meningkat tinggi.
Secara bulanan (mtm) inflasi Mei 2026 mencapai 0,28 persen dibanding 0,13 persen pada April 2026, secara tahunan (yoy) inflasi Mei 2026 tercatat 3,08 persen dibanding 2,42 persen pada April 2026, dan secara tahun kalender Januari-Mei 2026 (ytd) mencapai 1,35 persen.
“Komoditas dengan andil inflasi terbesar (secara tahunan) adalah emas perhiasan (0,63 persen), ikan segar (0,22 persen), beras (0,18 persen), daging ayam ras (0,15 persen), dan tarif angkutan udara (0,14 persen),” kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: April Inflasi Kian Melandai, Tapi Konflik Timur Tengah Mulai Berdampak
Sedangkan secara bulanan, komoditas penyumbang utama inflasi Mei 2026 adalah cabai merah (0,08 persen), minyak goreng (0,04 persen), bawang merah (0,04 persen), bahan bakar rumah tangga (0,03 persen), dan tomat (0,03 persen).
Inflasi tahunan tertinggi tercatat di Papua Barat (5,94 persen), terendah di Lampung (1,94 persen). Untuk tingkat kabupaten/kota, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Aceh Tengah (6,09 persen), dan terendah di Minahasa Utara (0,66 persen).
Sementara inflasi inti pada Mei 2026 mencapai 2,46 persen (yoy) dibanding 2,44 persen (yoy). Inflasi inti adalah inflasi yang tidak memperhitungkan komponen harga barang yang sangat mudah berubah (volatil) seperti bahan makanan, dan komponen harga barang yang diatur pemerintah seperti energi.
Baca juga: Inflasi Februari Melejit Jadi 4,76 Persen, Dipengaruhi Tarif Listrik dan Perumahan
Inflasi inti kerap dihubungkan dengan daya beli. Namun, dengan kenaikan harga barang dan jasa yang tercermin dari peningkatan signifikan inflasi umum di atas, kenaikan inflasi inti berarti dipicu oleh kenaikan harga barang non makanan dan non energi seperti harga emas, bukan karena kenaikan konsumsi/daya beli.