Senin, Mei 4, 2026
HomeNewsEkonomiApril Inflasi Kian Melandai, Tapi Konflik Timur Tengah Mulai Berdampak

April Inflasi Kian Melandai, Tapi Konflik Timur Tengah Mulai Berdampak

Perang di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 yang melambungkan harga minyak dunia, dan berdampak pada rantai pasok, biaya logistik dan harga aneka barang, belum berdampak terhadap ekonomi Indonesia. Tercermin dari tren kenaikan harga barang dan jasa atau inflasi yang maoin melandai.

Pada April 2026 Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Senin (4/5/2026), Indonesia mengalami inflasi 2,42 persen secara tahunan (yoy), dan 0,13 persen secara bulanan (mtm).

Inflasi tahunan pada April 2026 itu memang lebih tinggi dibanding April 2025 yang tercatat 1,95 persen (yoy). Namun dibanding tiga bulan pertama tahun ini, inflasi April 2026 makin melandai.

Pada Maret 2026, inflasi tahunan tercatat 3,48 persen (yoy) dan bulanan 0,41 persen (mtm). Pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen (yoy) dan 0,68 persen (mtm), dan pada Januari 2026 sebesar 3,55 persen (yoy) dan 0,15 persen (mtm).

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, inflasi tahunan April 2026 itu didorong kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau sehingga mengalami inflasi 3,06 persen dengan andil inflasi 0,90 persen.

“Komoditas dengan kenaikan harga terbesar adalah ikan segar, daging ayam ras, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin, dan telur ayam ras,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta.

Juga mencatat inflasi yang cukup besar, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, sebesar 11,43 persen dengan andil inflasi 0,77 persen, terutama disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan.

Sementara secara bulanan, konflik di Timur Tengah sudah mulai berdampak terhadap inflasi, berupa kenaikan harga avtur yang membuat tiket pesawat melambung.

Baca juga: Wamenkeu: Harga BBM Tidak Naik Demi Jaga Daya Beli dan Tahan Inflasi

Secara bulanan penyumbang utama inflasi adalah sektor transportasi, dengan inflasi 0,99 persen dan andil inflasi 0,12 persen.

Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi adalah tarif angkutan udara dengan andil inflasi 0,11 persen serta bensin dengan andil inflasi 0,02 persen.

“Inflasi tarif angkutan udara mencapai 15,25 persen secara bulanan, memberi andil inflasi terhadap kelompok transportasi sebesar 0,89 persen dan terhadap inflasi umum 0,11 persen,” ujar Ateng.

Sedangkan inflasi bensin tercatat 0,34 persen dengan andil terhadap kelompok transportasi 0,13 persen dan terhadap inflasi umum 0,02 persen.

Inflasi tahunan pada April 2026 terjadi pada seluruh komponen. Komponen inti mengalami inflasi 2,44 persen yang memberi andil 1,56 persen. Di sini komoditas yang dominan memberi andil inflasi terutama emas perhiasan, minyak goreng, nasi dan lauk, serta biaya kuliah.

Sementara komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi tahunan 3,37 persen dan memberi andil 0,56 persen, dengan komoditas yang dominan memberi andil inflasi daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras.

Sedangkan komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) mengalami inflasi 1,53 persen dengan andil inflasi 0,3 persen. Komoditas yang dominan memberi andil inflasi, adalah tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin dan sigaret kretek tangan.

Baca juga: Ada Ramadan dan Idul Fitri, Tapi Maret Inflasi Semua Kelompok Barang Menurun

Kalangan pengamat memperkirakan, bila perang di Timur Tengah berlarut-larut, sangat mungkin inflasi pada bulan-bulan selanjutnya melambung, dipicu kenaikan harga minyak dunia, terganggunya rantai pasok, dan meningkatnya biaya logistik, yang selanjutnya memicu kenaikan harga aneka barang dan jasa.

Selain itu konflik tersebut juga membuat nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS dan mata uang lainnya, akibat sentimen negatif investor asing terhadap kondisi fiskal RI yang harus menanggung beban subsidi BBM yang lebih besar.

Penurunan nilai tukar akan menaikkan harga barang impor RI dalam rupiah, yang selanjutnya akan meningkatkan inflasi.

Berita Terkait

Ekonomi

Kemenperin Bantah RI Alami Deindustrialisasi, Ini Alasannya

Kementerian Perindustrian (Kemnperin) membantah Indonesia mengalami deindustrialisasi, atau penurunan...

Pesanan dan Produksi Menurun, Ekspansi Manufaktur RI Makin Kendur

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur RI pada April masih...

Tiga Perusahaan Jajaki Kerjasama Pengembangan Teknologi Pengolahan Air di Kawasan Industri

Kementerian Perindustrian mempercepat penguatan infrastruktur pendukung industri, khususnya dalam...

AHY: Pembangunan Infrastruktur untuk Akselerasi Ekonomi Berkelanjutan

Pembangunan infrastruktur masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada...

Berita Terkini